Wednesday, August 11, 2010

Ga usah punya cita-cita, klo ga mw usaha

Sedikit Flahsback ke masa kecil, ketika kecil orang tua, guru, dan orang-orang terdekat sering menanyakan pada kita, "Kalau sudah besar nanti kamu mau jadi apa nak?", dengan semangat dan penuh keyakinan kita menjawab, "Aku mw jadi dokter / Aku mw jadi Pilot / Aku mw jadi Polisi / Aku mw jadi Presiden?" dan lain sebagainya, yang tidak kita sadari kalau ide tersebut berasal dari guru-guru kita di Sekolah Dasar. Walaupun tidak bersifat negatif, tapi juga tidak memberikan pengaruh psikologi positive yang cukup signifikan.

Ketika beranjak remaja, tanpa kita sadari, kita telah berada dalam konstruksi sosial yang cukup berbeda. Yaa, dengan segala bentuk gaya dan popularitas. Kondisi psikologi pada usia remaja kita cendrung mudah terpengaruhi oleh hal-hal yang ada di media. Hasilnya, ketika kita ditanya teman-teman, "Cita-cita lu mw jadi apa?", jawabannya pun akhirnya berubah dari apa yang kita jawab sewaktu ditanya ketika masih duduk di sekolah dasar. Kita menjawab, "Gw pengen jadi anak band / Gw pengen jadi pemain bola / Gw pengen seperti David Beckham / Gw pengen jadi artist, dan lain sebagainya. Yaa, cita-cita masa kecil kita akhirnya tinggal kenangan bukan? Sungguh kasian para orang tua kita, guru, dan orang-orang terdekat yang dengan sukses kita bohongin dengan cita-cita masa kecil kita yang ternyata mendadak berubah ketika kita remaja. 

Dalam usia dewasa, atau masa kuliah,  dengan sedikit kematangan pemikiran, cita-cita masa kecil dan remaja juga terkikis dengan status quo yang ada. Orang tua kembali memberi pertanyaan yang sangat mulia itu dengan penuh harapan dan untaian Do'a. "Mw jadi apa kw nak?", dengan polos kita menjawab, "Ga tw mak, bingung, kuliah juga belom selesai-selesai, nyari kerja susah, para sarjana juga banyak yang jadi pengangguran". Well..well..well, kondisi berubah menjadi semakin buruk.  Dari Dokter / Presiden / Artist / Pemain Bola, sekarang berubah menjadi NIHIL. Durhaka sekali kita sama orang tua, menghancurkan setiap tetes harapan dan doa yang diberikan kepada kita. Aaahh...ternyata kita tidak bisa menjadi anak yang sesuai dengan harapan orang tua, guru, bahkan diri kita sendiri. Haruskah disalahkan ibu yang mengandung? eeuummm... tentu tidak yah? 

Hidup adalah perjuangan, perjuangan untuk kita kembali bernafas dipagi hari ketika mata kembali terbuka.  Perjuangan untuk memenuhi seluruh kebutuhan perut, kebutuhan rohani, hingga materi. Perjuangan menempuh detik-detik yang berjalan untuk membangun cita-cita kita yang suatu saat nanti insyaAllah akan menjadi kenyataan. Dan perjuangan itu tidak pernah mudah, berliku dan berbukit seperti jalan ke rumah saya (heh). Perjuangan merupakan mesin dari cita-cita kita.

Bagi saya, cita-cita sepertinya hanya hayalan yang menjadi motivasi, cita-cita bukan tujuan utama,  tapi tujuan utama saya adalah kesuksesan menjalankan takdir. Yaa, banyak orang yang ga bisa mencapai cita-cita lalu kemudian putus asa. Kita telah punya garis hidup masing-masing, hanya tergantung usaha dan doa kita untuk menentukan akan kan jalan itu tetap licin dan lurus, atau harus berbelok, berbukit dan berlobang.

Hidup ini berputar, seperti bumi yang berotasi dan berevolusi.
Ikhtiar, Do'a dan Ikhlas adalah kunci sukses utama, Tawakkal 'alallah, biar kan Allah yang menentukan masa depan terindah buat kita. 

Saturday, August 7, 2010

Kangen Rumah sendiri!!

Sedikit bercerita tentang hidup. Ga tau kenapa skarang kepikiran buat nulis tentang kehidupan pribadi. Lagi melow kayaknya.lol.

Terlahir dari keluarga yang Alhamdulillah penuh kesederhanaan di sebuah desa di bagian selatan Sumatera Barat, sekitar 23 tahun silam. Sudah tua ato masih mudah?? itu subjektif lah yah...Dalam 23 tahun menapak di bumi ini, sepertinya sudah sangat banyak pelajaran hidup yang saya dapat, walaupun sebenarnya masih sangat minim pengalaman dibanding temen-temen yang mungkin lebih muda dari pada saya. Pastilah kita tidak pernah memiliki jalan hidup yang sama. Setiap orang memiliki skenario dan romansa-romansa tersendiri. Semua tergantung ikhtiar dan takdir.

Tamat sekolah dasar tahun 1999, berumur 12 tahun, saya melanjutkan pendidikan ke Pesantren, Pesantren Modern Terpadu Prof. DR. Hamka. Tempat di mana saya menimba ilmu dan melanjutkan pendidikan lebih kurang 6 tahun. InsyaAllah dilain kesempatan saya akan bercerita tentang kehidupan di Pesantren. 

PMT Prof. DR. HAMKA, demikian sering disebut, terlatak cukup jauh dari rumah orang tua saya, sekitar 5-6 jam perjalanan, tepatnya di Desa Pasar Usang, Kec. Batang Anai, Kab. Padang Pariaman, 28 km dari kota Padang ke arah Utara. Dan karena Pesantren, saya tinggal di Asrama. Yaa mungkin itu awal di mana saya tidak lagi tinggal bersama orang tua. Nangis? pastinya nangis, bukan karena cengeng, tapi memang karena psikologi, dan masuk pesantren yang didorong dengan niat untuk membahagiakan orang tua, bukan niat sendiri yang ingin mencari ilmu di negeri orang, betualang atau pun niat buat belajar agama. Tapi yang pasti, saya sangat bersyukur telah menjadi santri di sana.

Tamat SMP PMT Prof. DR. Hamka tahun 2002. Alhamdulillah dengan nilai yang cukup memuaskan dan bisa masuk sekolah-sekolah favorit di kota Padang. Tapi sedikit pun tidak pernah terlintas untuk balik ke kampung halaman dan melanjutkan pendidikan di sana. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya melanjutkan SMA di pesantren yang sama. Syukran lillahita'ala saya sangat cinta pesantren Hamka.

Tidak tahu pantas atau tidak, tahun 2004-2005 saya dapat kesempatan untuk jadi an Exchange Student ke Amerika Serikat, dengan program AFS-YES yang dibayai langsung oleh Pemerintah Amerika Serikat. ALHAMDULILLAH, senang karena bisa ke luar negeri, apalagi Amerika Serikat, dengan Beasiswa penuh, tapi saya lebih bahagia karena bisa bikin bangga kedua orang tua dan keluarga.

Selama di US tepatnya, State Kansas, saya hidup dengan Host Family, Keluarga angkat, yaaah, lagi-lagi saya hidup jauh dari keluarga, tidak asrama, tidak kos, tapi numpang. Alhamdulillah dapat keluarga yang sangat luar bisa, Thanks Mr. Wayne Wilmer for my ten days stay, bunches of thanks to Moussa Elbayoumy Family, Maggie, and Nora, (I miss u all guys), yang telah menampung dan menjadi keluarga saya selama 11 bulan di US.

Balik dari USA tahun 2005, saya melanjutkan pendidikan di pesantren, again balik ke asrama. Tahun 2006, keterima di IPB, lagi-lagi harus tinggal di Asrama, namun karena tidak betah, saya kabur dari IPB, balik ke Padang, les dan kos. Yaaa..mulai saat itu, status domisili saya berganti menjadi anak kost-an. Hingga sekarang, saya sudah menjadi anak kost-an lebih kurang 4 tahun, hidup di asrama 6 tahun, tinggal sama keluarga angkat 1 tahun, dan 12 tahun bersama orang tua. 

Sebagian dari hidup saya telah berada di luar keluarga besar. Hingga sekarang saya hanya ketemu orang tua ketika masa libur datang, kadang 6 sekali, kadang setahun sekali. Pastinya sangat kangen dengan kehidupan di rumah, bersama keluarga, dengan kehangatan kasih sayang orang tua. Namun saya masih beruntung, Alhamdulillah, masih memiliki keluarga yang utuh dan selalu ada buat saya.

Akan tetapi, yang saya kangenin bukan kembali ke rumah orang tua dan tinggal bersama mereka. Tapi membawa orang tua saya tinggal bersama saya, di rumah yang saya bangun dengan usaha saya sendiri. Aaahh..sungguh indah kalau itu terjadi, don't u think fellas??, orang tua saya pasti akan sangat bahagia. Yaaa..mungkin akan menjadi salah satu perkara yang paling membahagiakan dalam hidup saya. 
Semoga Allah swt berkenan mengabulkan..Amin
Mimpi terbesar saya adalah bre Haji bersama Ayah, Mama, Kakak, dan Adik.
Semoga Allah memberikan jalan yang diridhoi...Amiin...

Ngarep boleehh

Spelintir Curhat
Ini sebenarnya cuma harapan dan doa, semoga Allah berkenan mengabulkan, Amin.
Walaupun tidak terniat buat segera menikah, masih ingusan, pengangguran, dan blum punya penghasilan, tapi mungkin bisa menjadi motivasi untuk segara melangsungkan.
euumm..sedikit malu untuk membicarakan hal ini, tapi ga papa lah, itung-itung perkataan sebagian dari doa.
Oke, ini berbicara mengenai kriteria calon istri idaman, idaman saya tentunya.lol.
ga muluk-muluk sih;

1. Sholehah
Pastinya setiap suami menginginkan istri yang sholehah toh? Beriman dan Bertaqwa kepada Allah swt dan Rasulullah saw. Istri yang selalu berjalan di Agama Allah, yang selalu menjaga diri, sikap dan hati. Istri yang selalu berjalan sesuai dengan agama menjadi pendamping bagi suaminya. Taat agama, dengan selalu menjalankan ibadah-ibadah wajib dan sunnah. Tidak lupa selalu membaca dan mengamalkan kalimat-kalimat alqur'an. Selalu menutup diri dan aurat dengan pakaian-pakaian yang benar menurut agama. Istri yang selalu menjaga diri untuk suami dan bisa menjadi imam pengganti bagi anak-anak nya ketika suaminya tidak di rumah.

2. Sederhana
Kenapa sederhana? Biar tidak buta dengan kehidupan dunia. Tidak gila harta dan senantiasa mensyukuri apa yang dititipkan Allah swt kepadanya. Mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya. Tapi bukan berarti hanya pasrah. Tidak riya dalam bersikap. Yaah, saya sangat mengharapkannya, pandangan lain, siap untuk hidup dengan segala keterbatasan, baik fisik maupun materi. Dan dapat berinteraksi dengan segala bentuk kalangan masyarakat. Menjadi intan di tengah lumpur dan permata di padang pasir.

3. Pintar
Kenapa harus pinter? pada dasarnya manajer rumah tangga adalah ibu. Dan seorang manajer tentunya harus pinter dan baik dalam memanaje anggotanya, tindakan, sikap, agama dan pengetahuan, hingga manajemen materi. So, istri yang pinter saya anggap yang capable dalam manajamen semua aspek tersebut. Selain itu istri yang pinter juga pastinya bisa memberikan solusi yang baik bagi setiap permasalahan yang dihadapi suaminya. Sehingga setiap masalah rumah tangga dapat diselesaikan dengan musyawarah dan bijaksana.

4. Enak dilihat
Wew, ga boleh munafik, penampilan fisik juga menjadi salah satu pertimbangan saya. Ga mesti cantik, ato manis, karena itu semua sangat subjektif. "Enak dilihat" bisa berasal dari inner beautynya yang didukung dengan penampilan fisik. Well, karena bagi saya, fisik juga bisa menjadi penenang, yaa mungkin candu. Analoginya, ketika kita melihat ikan yang berenang di akuarium dengan keindahan corak dan warnanya, pasti akan memberikan ketenangan tersendiri bagi diri kita. Yaa mungkin begitu, klo dijabarin detailnya takutnya menimbulkan salah paham, karena saya juga tidak bisa menuliskan kata-kata hiasan yang indah seperti pujangga apalagi Al-qur'an.

Segelintir harapan dan doa buat masa depan, semoga Allah swt mengabulkan, Amin.
Namun apa pun yang saya terima, semuanya pasti yang terbaik dari Allah swt.

ps: temen-temen yang bejat dan kurang bijaksana.wkwkwk.., ini bukan joke yah, jadi tolong diambil peljarannya aja...hidup kita berjalan.

Sukajaya we love

Banyak kenangan unik, pahit, indah yang terjadi selama masa KKN di desa Sukajaya. Waktu satu bulan juga berjalan dengan sangat cepat. Yang tertinggal hanyalah kenangan, ilmu, dan persaudaraan. Walaupun sekarang kita tidak lagi bersama, namun apa yang telah kita lalui sekiranya akan menjadi kenangan di masa depan. Manyu, Boya, Dian, Ajeng, Windy, Wenny, Bulbul, Uma, Ovien, Sherly, Pak Dul, Fahmi, Danu, Aki, Nicky, dan Jana, telah menemani saya mengisi hari-hari yang penuh dengan suka dan duka di desa Sukajaya.

Banyak sebenarnya yang mw diceritakan, tapi gak tau harus di mulai dari mana. Mungkin ada baiknya sedikit di mulai dari awal. Kita memang dipertemukan secara acak, tidak sengaja dipertemukan di sukajaya, tapi klo dipikir-pikir...kita sehati loh, pada milih sukajaya (lebaaaaayy loh...eumm), buat kalian yang terdampar, we were mean to be together.

Emang ga gampang kerjasama dengan orang yang belum kita kenal, ga tau sifat, karakter, atau pun etos kerjanya. Ga gampang juga untuk hidup bersama dengan orang-orang yang sama sekali alien bagi kita. Tapi ketakutan dan kesulitan itu terbukti hanya mitos bagi kita. Semua telah berjalan dan berakhir dengan indah.

Di sukajaya, kita telah belajar bagaimana hidup sederhana. Memahami bagaimana kehidupan sosial bermasyarakat, terutama di desa. Memang sangat berbeda sekali pola interaksi antara kehidupan di desa dan di kota. Bagi teman-teman yang dibesarkan di kota, mungkin juga bisa belajar mengenai kesederhanaan hidup. Yaa, walaupun masih banyak yang dolbon dan empang sebagai tempat pembuangan terakhir, negatif dalam ilmu kesahatan, tapi mungkin bisa dikatakan itu sebagai bentuk kesederhanaan. Tapi saya yang berasal dari desa juga menemukan banyak hal yang berbeda di Sukajaya. Kekerabatan yang sangat kuat, pengajian mingguan atau pun bulanan, karang taruna, gotong royong, semua masih kental dan kentara.

Hai, masyarakat Sukajaya sangat cinta tanah air ini. Mungkin boleh protes dengan pembangunan infrastruktur dan ekonomi negara ini yang tidak pernah terdistribusikan secara merata. Dan masyarakat Sukajaya mungkin bisa dikatakan salah satu masyarakat yang masih kurang diperhatikan oleh pembangunan negara, tapi mereka semua sangat menghargai negara ini. Saya sangat terharu melihat para pemuda dan masyarakat memeriahkan peringatan 17 agustus-an, mulai dari rapat panitia, persiapan seluruh kelengkapan pertandingan, hingga pelaksanaan pertandingan. Para pemuda yang dengan semangat dan penuh sportivitas bertanding sepak bola walaupun dengan lapangan yang agak sedikit becek, ibuk-ibuk yang dengan suka riang berlari dan memukul bola kasti, bapak-bapak yang dengan senyum mengayunkan raketnya dalam pertandingan bulu tangkis, semua itu dilakukan dalam memeriahkan ulang tahun negara kita ini.

Masyarakat Sukajaya sangat baik yah, sangat welcome dengan keberadaan kita di sana. Sangat semangat memperkenalkan apa yang mereka miliki di sana. Kayu alba, lahang, CIMPLUNG, Kelapa muda, aah semuanya sungguh ilmu yang sangat luar biasa. Tidak hanya kita yang harus mendekatkan diri kepada mereka, mereka juga dengan gampang mendekatkan diri kepada kita, ngajakin kita buat berkunjung ke rumah mereka, akibatnya kita lebih mudah beradaptasi dengan mereka, dan kita juga meresa seperti punya rumah baru yang sangat berbeda dengan apa yang telah diberikan oleh keluarga kita. Yaa guys, ini mungkin jadi salah satu warna terindah dalam hidup kita. Nuhun pisan Sukajaya.

Jangan salah yah, walaupun secara geografis terletak agak ke dalam, tidak di jalan lintas utama, tapi Sukajaya punya akses yang sangat dekat dengan daerah-daerah pariwisata pantai selatan. About 45 minutes drive to pangandaran beach, 20 minutes drive to  Batu Karas Beach, 35 minutes to Batu Hiu, and you can take  a walk green canyon. Luar biasa bukan? KKN kita seperti liburan, dengan motto yang di gagas mang Jana PROGRAM JANGAN SAMPAI MENGGANGGU LIBURAN, (red: mang jana thanks for the motto). Tapi justru letak geografis Sukajaya memberikan cerita tersendiri bagi kita. Kenangan unik ketika kita harus nebeng mobil pick up atau pun truk kalau berpergian agak jauh. Berasa jadi si bolang bukan? Ahh sangat indah yah kejadian itu. Gimana rasanya jalan kaki 5 kg ke rumah pak kades? Yang jalan kaki  pulang dari mal (a.k.a alfamart) karena ga dapet omprengan? (i can't any longer hold this smile on my face, it was so beatiful to remember).

Kehidupan beragama Desa Sukajaya, yaaa..salah satu kenangan yang mungkin sangat membekas, mungkin waktu kita Yasinan di Pesantren. Bapak-bapak yang baca yasin nya kayak pembalap, hingga kita selalu tertinggal hingga 30 ayat ketika mereka telah menutup lembaran yasinnya. Setiap pengajian, yasinan dan tahlilan selalu diberi makanan, walaupun masih ada kontroversi tentang pemberian makanan di tempat yasinan, tapi itu bisa menjadi pelajaran sosial kekeluargaan yang sangat baik bagi kita. Benar tidak?? (pake aksen boya). Pengalaman pertama jumatan di Sukajaya, yang ternyata ada ceramah sebelum khotbah, tapi kita cuma planga-plongo, dan mikir klo khotbahnya udah mulai. Alhasil, jumat-jumat berikutnya kita selalu datang telat, agar tidak diceramahin dua kali oleh khotibnya.

Kalian yang suka mandi bareng, terutama anak-anak cewe, hayooo...ngapain kalian di kamar mandi? (euumm..evil laugh). Yaa, mungkin itu ga akan pernah terjadi lagi, lagi-lagi desa Sukajaya memberikan kenangan unik bukan? Buat kita yang di rumah cowok, cukuplah dengan teriakan; "NICKY, Cepetaaaaannn.nn!!!", Nicky dengan wajah polos nunjukin pee nya yang sudah dikemas ke botol aqua...wueekk.

Anak-anak desa sukajaya (terinspirasi karena barusan baca statusnya si uma @Anindya Sukma kangenn anak" kecil d desa .. ;)) , saya emang ga terlalu inget nama mereka sopi, salma, yopi, asep, tya, wawan dan anak-anak SD 3 yang suka dateng ke rumah buat belajar bersama kakak-kakaknya. Pasti anak-anak cewe pada kengen kan? Ngajarin mereka membaca, bahasa inggris, matika. Miracle bukan bisa melihat senyum mereka ketika beljar bersama kalian? Walaupun tidak banyak membantu, tapi kalian sudah berjuang mencerdaskan anak bangsa ini, sangat mulia teman-teman (mata berkaca).

nanti saya sambung lagi ya temen-temen...terlalu panjang, pasti kalian bosan baca tulisan saya. memang tidak berbakat nulis soal le...harap maklum, cuma manusia yang amat sangat extremely biasa.

bunches of love for u guys, Sukajaya lovers...

Sunday, June 27, 2010

Ayo perang lagi biar dunia ini damai!!

Pendahuluan
Semua umat manusia pada dasarnya memang sangat tidak menginginkan terjadinya perang. Hal ini tentu dikarenakan oleh dampak yang negatif dan destruktif dari perang tersebut, baik bagi manusia atau pun lingkungan. Seperti banyaknya korban dari masyarakat sipil, kehancuran ekonomi dan infrastruktur negara, hingga degradasi lingkungan yang pasti akan berdampak juga terhadap kehidupan manusia. Namun, di sisi lain, dalam sistem internasional yang anarkis, perang merupakan suatu jalan dalam menciptakan suatu perdamaian dan menentukan hidup atau matinya suatu bangsa (Tzu 2008, h.1).

Namun ada beberapa pandangan yang berbeda dalam perspektif mainstream Hubungan Internasional terkait upaya untuk mencapai peradamian dan sistem internasional. Kaum realist memiliki pandangan yang pesimis terhadap sifat dasar manusia (Jackson & Sorensen 1999, h. 88), di sisi lain, kaum liberalist melihat bahwa perang merupakan suatu anomali dari sifat dasar manusia yang menginginkan adanya interaksi dan kerjasama yang baik di antara mereka. 

Dalam fenomena hubungan internasional, kedua pandangan tersebut, terbukti dapat digunakan dalam mewujudkan perdamaian. Dalam sejarah, beberapa perang seperti pada perang dunia dua atau perang dingin. Sebaliknya, perspektif liberalist dengan teori interdependece dan democratic peace theory-nya, juga telah berhasil membuktikan bahwa perdamaian tidak hanya dapat dicapai dengan suatu kekerasan destruktif, tapi juga melalui kerjasama dan kesamaan ideologi antar negara yang menciptakan kondisi saling ketergantungan antara satu dengan yang lainnya.

Dalam esai ini, penulis akan menitik beratakan upaya pencapaian damai melalui perang seperti yang diyakini oleh kaum realist. Melihat relevansi yang kuat. Di sisi lain juga sangat sulit mencari koherensi antara pandangan liberalis terhadap perang dan damai karena pada dasarnya masih dipandang sebagi konstruksi yang dipaksakan untuk mengatur tindak-tanduk negara dalam sistem internasional yang anarkis.  Secara langsung, kaum realis juga menyatakan bahwa pandangan yang kaum idealis akan sifat manusia merupakan suatu yang utopis.

Isi
Ada dua prinsip pandangan yang berbeda mengenai perang sepanjang sejarah manusia. Antara pandangan yang pesimistik dan pandangan yang optimistik. Yaitu antara Realist yang pesimis dan Idealist yang optimis. Idealis yang optimis melihat bahwa manusia memiliki sikap perbaikan terhadap strategi kehidupan mereka yang belajar dari sejarah masa lalu. Mereka merunut kepada pertumbuhan norma-norma, hukum dan institusi yang semuanya akan mengurangi terjadinya kekarasan dalam setiap tindakan politik. Di sisi lain, realist yang pesimis melihat sifat dasar manusia, termasuk tindakan politik manusia, yang tidak pernah mengalami perubahan (Gray 2007, h. 265).

Salah satu pandangan utama kaum realist adalah pesimistik atas sifat dasar manusia, yang pada dasarnya ingin menjadi penguasa, mendominasi pihak lain dan keyakinan bahwa hubungan internasional pada dasarnya bersifat konfliktual dan pada akhirnya konflik internasional diselesaikan melalui perang (Jackson & Sorensen 1999, h. 88). Keinginan manusia untuk mendominasi manusia lain didasari oleh ketakutannya akan dominasi manusia lain yang nantinya akan mengancam kepentingannya, baik kepentingan akan keamanan maupun kesejahtaraan. Morgenthau (1965, h. 195) berpendapat bahwa ‘...Politik merupakan perjuangan untuk memperoleh kekuasaan atas manusia, dan apa pun tujuan akhirnya, kekuasaan adalah tujuan terpentingnya dengan cara-cara memperoleh, memelihara dan, menunjukkan kekuasaan menentukan teknik tindakan politik’.  Kondisi ini kemudian didukung oleh absennya kedaulatan yang melebihi kedaulatan negara-negara dalam sistem internasional, sehingga tidak ada suatu institusi yang memiliki wewenang untuk mengatur dan mengawasi interaksi dan tindak-tanduk setiap negara.

Von Clausewitz (2007) melihat perang sebagai ‘continuation of politics by other meaning’, sebagai sebuah instrument yang digukanan untuk mencapai kepentingan-kepentingan politik, menganggap bahwa perang secara instrinsik merupakan sebuah tindakan yang bersifat politis, sehingga ketika kita ingin memahami suatu peperangan makan kita harus mengerti mengapa para pengambil kebijakan memilih tindakan militer dari pada kebijakan lain untuk mencapai kepentingannya (Levy 2002, h. 350).

Perang merupakan suatu tindakan pencampaian perdamaian yang sangat tradisional dan memang sangat destruktif. Dalam studi hubungan internasional, para pemikir realist mulai melihat fenomena ini semenjak Peloponesian War, sekitar 2.400 tahun yang lalu (Levy 2002, h. 350) yang hingga saat ini masih berlangsung. Kita bisa melihat konflik panjang terjadi tanpa ada penyelesian karena tidak pernah terjadi perang. Konflik Israel dan Palestina seolah tidak pernah berhenti semenjak tahun 1918 ketika masyarakat Yahudi dari Eropa mulai pindah ke tanah Palestina. Konflik yang memang tidak pernah terjadi dalam great war secara terbuka sehingga tidak juga tidak pernah tercipta perdamaian antara kedua negara tersebut. Peristiwa ini secara tidak lansung juga menepis pandangan liberalis yang menyatakan bahwa perdamaian dapat dicapai melalui hukun internasional dan perjanjian antara negara.

Dalam lima abad terakhir, sistem modern dalam hubungan internasional telah menyaksikan rata-rata terjadi satu perang besar pada masing-masing dekadenya, walupun frekuensi telah mengalami penurunan (Levy 2002, h. 351). Namun para pemikir neorealism, tetap melihat bahwa sistem internasional yang anarkis, merupakan suatu kondisi yang sangat memungkinkan terjadinya perang. Sehingga, kemungkinan akan terjadinya great war, masih sangat besar. Kita lihat fenomena krisis Korea Utara dan Korea Selatan, perang terbuka memang terjadi pada tahun 1950-1953 (Kaliwaran 2010) , namun belum dalam skop great war yang mampu melumpuhakan salah satu atau kedua negara seperti yang terjadi pada Perang Dunia kedua. Sehingga kedua negara belum pernah memiliki pakta perdamaian yang mengkibatkan munculnya krisis berkepanjangan yang tidak pernah selesai, karena masih memiliki kapasitas dan kapalitas untuk membangun kembali militernya.

Perang dunia kedua, kita mengetahui kehancuran yang dialami oleh Jerman, Italia, dan Jepang, yang merupakan tiga negara fasis dalam blok poros. Ketiga negara tersebut berhasil dihancurkan oleh Blok sekutu yang terdiri dari Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Perancis, dan sekutu lainnya. Bahkan Hiroshima dan Nagasaki hancur akibat bom atom tentara sekutu.

Fenomena perang dan damai terjadi silih berganti. Kembali kepada sifat dasar manusia yang ingin menjadi pengendali bagi yang lainnya, masa damai merupakan suatu masa untuk mempersiapkan diri menghadapi perang selanjutnya. Para penteori konflik secara tradisional mendefinisikan damai sebagai ketiadaan perang (atau mungkin ketiadaan konflik militer) (Levy 2002, h. 351). Pernyataan ini mungkin dapat kita saksikan sendiri dalam fenomena hubungan internasional, ketika masa perang dunia satu berakhir, terjadi masa interbellum menjelang perang dunia kedua dimana negara-negara kalah perang seperti Jerman kembali membangun kapasitas dan kapalitas militernya. Setelah berakhirnya perang dunia dua, negara mengalami masa damai hingga munculnya Perang Dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Tahun 2001, setelah peristiwa 9/11, Amerika Serikat melakukan invasi terhadap Afghanistan, yang dilangsungkan dengan perang terhadap Irak pada tahun 2003. Dan current issues, kembali memanas konflik antara Korea Utara dengan Korea Selatan, dan Israel dan Palestina.

Korea selatan dan Korea Utara kembali memanas terkait isu semenanjung korea, di mana Korea Utara dituduh menyerang kapal perang Korea Selatan di laut kuning pada 26 Maret 2010 silam. Sedangkan Israel dan Palestina terkait dengan isu di wilayah pemukiman Gaza. Isu kemudian berkembang menyulut kemarahan masyarakat global ketika Israel menyerang kapal relawan yang membawa bala bantuan ke Gaza pada senin 31 Juni 2010. Kedua konflik ini memicu ketidakstabilan dan sistem internasional yang anarkis. Tidak adanya institusi yang memeliki kedaulatan untuk mengatur interaksi antar negara menjadikan konflik ini menjadi potensi perang yang mungkin akan terjadi.

Realis membedakan antara status quo dan negara revisionist dan menggunakan kedua perbedaan tersebut untuk mengidentifikasi bagaimana negara terlibat dalam suatu perang. Pertama negara terlibat dalam konflik kepentingan secara langsung dengan pertimbangan yang setidaknya dari salah satu negara bahwa konflik tersebut lebih baik diselesaikan dengan jalan perang dari pada jalan damai. Hal ini seperti yang pernah dilkaukan oleh raja Alexander dan agresi militer yang dilakukan oleh Hitler pada perang dunia kedua dan Saddam Hussein pada perang Irak tahun 1990. Kedua adalah bagi negara yang berupaya mempertahankan keamanannya. Yaitu negara yang lebih cendrung untuk mempertahankan kondisi yang ada dan memperluas pengaruhnya (Levy 2002, h.353).

Perang merupakan upaya untuk mengokupasi suatu negara agar negara tersebut tunduk dan patuh terhadap negara yang mengokupasi (Clausewitz 2007, h. 32) . Kalau tidak, negara tersebut akan kembali muncul negara kekuatan baru. Pada dasarnya ketikat suatu negara telah diokupasi, maka di sanalah perjanjian damai dapat dibuat. Walaunpun banyak memunculkan pemberontakan-pemberontakan kecil. Ketika perjanjian damai telah terbentuk, maka dapat dikatakan bahwa perang sebagai insturment untuk menciptakan perdamaian telah terwujud.

Kesimpulan
Perang memang merupakan suatu hal yang sangat mengerikan dalam kehidupan manusia. Tak terbayangkan betapa banyak penderitaan yang harus ditanggung baik oleh negara maupun rakyat. Perang pada dasarnya ada yang dilegalkan secara hukum atau yang disebtu dengan justwar. Di mana merupakan perang yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, dengan kapasitas dan kapabilitas militer yang sama. Namun dalam kebanyakan fenomena internasional, perang terjadi cendrung pada negara-negara yang memiliki ketimpangan power.

Hal yang sangat tidak bisa dihindari dalam perang adalah pelanggaran HAM terhadap masyarakat sipil. Masyarakat sipil selalu menjadi salah satu elemen korban dari perang yang seharusnya dilindungi. Masyarakat hanya akan merasa aman apabila telah berada dalam suatu institusi organasisai politik yang di sebut dengan negara tersebut. Dan negara berkewajiban untuk melindungi rakyatnya. sehingga dengan melegalisasikan perang, suatu sama saja dengan membunuh masyarakatnya sendiri.

Akan tetapi suatu pertimbangan realis mengenai perang yang mampu menciptakan suatu perdamaian merupakan suatu fenomena nyata yang terjadi berulang-ulang. Perang dan damai seakan dua musim yang terjadi secara bergantian atau cycle dalam waktu yang tidak menentu. Mungkin kita dapat melihat kembali kepada sejarah, di mana great power terjadi setelah terjadinya perang-perang kecil antara masyarakat internasional. Ketika mereka jenuh akan perang, mereka akan diam.

Seiring dengan masa damai, mereka berusaha kembali membangun militer dan ekonomi mereka untuk mempersiapkan perang selanjutnya. Ketikan terjadi bentrokan antar negara, bentrokan tersebut tidak akan habis hingga adanya suatu perang besar yang dapat melumpuhkan salah satu atau semua pihak yang berperang. Ketika salah satu dari mereka hancur, maka saat itulah masa damai akan kembali tercipta. Begitulah fenomenanya berjalan, over and over again, dalam waktu yang tidak dapat diperdiksikan.

Daftar Referensi
Clausewitz, Von Carl, 2007, On War, trans. Howard, M & Paret, P, Oxford Universtiy Press Inc, New York.
Gray S, Colin, 2007, War, Peace and International Relations: an Introduction to Strategic History, Routledge, New York
Jackson, R & Sorensen, G, 1999, Introduction to International Relations, Oxford University Press inc, New York.
Kawilarang, R, 2010, Perang Korea dimulai, dilihat 30 Mei 2010,

Levy S, Jack, 2002, Peace and War, dalam Carlnaes, W, Risse, T, & Simmons A, Handbook of Internasional Relations, Sage Publications, London.
Machiavelli, N, 2008, Sang Penguasa, trans. Trjaji, N, Selasar Publishing, Surabaya.
Morgenthau, H,J, 1965, Scientific Man Versus Power Politic, Phoenix Books,Chicago
Tzu, S, 2001, Seni Perang, trans. Cleary,T, Erlangga, Jakarta.

Di mana maneh mas bro?

Dekade ini banyak wacana yang muncul tentang bagaimana seharusnya sikap laki-Laki terhadap perempuan. Mempertanyakan status laki-laki yang seharusnya menjadi pelindung perempuan. Wacana tersebut muncul bukan tanpa sebab. Pada dasarnya, wacana tersebut mempertanyakan peran laki-laki sebagai pelindung perempuan. Dari zaman pra sejarah, kita juga telah mempelajari betapa suatu kontsruksi sosial masyarakat menempatkan laki-laki, yang mendominasi nilai-nilai maskulin, berperan sebagai aktor yang melindungi pasangan dan keluarganya. Setiap hari, laki-laki  bertindak sebagai kepala keluarga yang pergi berburu untuk  menafkahi istri dan anaknya di rumah. Sedangkan istri tinggal dirumah  mengurusi rumah, anak, berkebun, dan beternak.

Pada era kontemporer, sebagiaan besar laki-laki yang masih melaksanakan perannya sebagai pelindung bagi perempuan dan anak-anak. Bukan hanya dalam lingkungan  keluarga, tapi juga dalam masyarakat dan negara. Di samping itu, laki-laki juga selalu berdiri di depan dalam menghadapi setiap masalah bagi keluarganya. Melindungi dari segala macam kemungkinan yang dapat  menimpa keluarganya. Serta memberikan tempat perlindungan atau rumah yang layak  untuk ditinggali.

Pada tatanan masyarakat dan negara, laki-laki muncul sebagai pemimpin di berbagai macam instansi pemerintahan dan non-pemerintahan. Mengakomodasi dan melindungi kepentingan-kepentingan dari komunitas teretentu. Akan tetapi, kaum laki-laki sepertinya tidak sepenuhnya menjalankan peran tersebut. Banyak distorsi-distori peran yang justru sangat bertentangan dengan gagasan laki-laki sebagai pelindung.  Bahkan sebaliknya, laki-laki merupakan aktor yang mengancam keamanan.

Pertama, mungkin kita perlu meninjau dari mana konstruksi laki-laki sebagai  pelindung tersebut muncul. Dari dulu, dunia telah didominasi oleh sistem patriarki yang senantiasa memberikan keutamaan bagi kaum laiki-laki. Patriarki mengordinatkan laki-laki dan mensubordinatkan kaum perempuan. Patriarki menciptakan konstruksi di mana laki-laki memiliki dominasi atas perempuan. Laki-laki dianggap sebagai subjek yang "menentukan" sesuatu. Sebaliknya, perempuan dianggap sebagai objek yang "ditentukan". Akibatnya, muncul dominasi dan diskriminasi dalam sistem politik, sosial, dan budaya terhadap kaum perempuan. Perempuan tidak mendapatkan hak-hak politik sebagaimana laki-laki.

Sering dengan ketidakadilan tersebut, gerakan kaum perempuan kemudian muncul dan melawan hegemoni konstruksi patriarki. Melalui gerakan dan pemikiran feminisme, kaum perempuan berjuang untuk menciptakan suatu kesetaraan sex antara laki-laki dan perempuan dan berupaya mendekonstruksi sistem patriarki. Seperti tulisan Mary Wollstoncraft; vindication of the rigt of woman (1792), mengenai kesetaraan moral sosial dan gender. The equality between the sexes or equal right.

Sistem patriarki menempatkan laki-laki sebagai aktor yang superior dan perempuan pada kondisi inferior. Kondisi ini secara inflisit memaksa para laki-laki menjadi pelindung perempuan. Walaupun pada kenyataannya, tidak semua perempuan membutuhkan laki-laki sebagai pelindung mereka. Sistem patriarki seolah-olah mentakdirkan peran perempuan yang terbatas pada wilayah domestik saja, mengurus suami dan anak di rumah. Sedangkan secara  politik, ekonomi, dan sosialnya tergantung pada laki-laki.

Pertanyaannya; apakah semua laki-laki mampu bertindak sebagai pelindung? Apakah semua laki-laki mampu mempertanggungjawabkan peran superioritas yang dikontruksikan kepadanya? Sepertinya perlu untuk meninjau kembali pernyataan tersebu berdasarkan fakta-fakta yang terjadi dalam sosial masyarakat pada saat ini.

Dalam tataran rumah tangga, peran utama laki-laki adalah sebagai pemberi nafkah, kepala rumah tangga, pendidik. Di samping itu, laki-laki juga berperan sebagai pelindung bagi keluarganya dari berbagai ancaman, baik yang bersifat fisik, moril, atau pun materil. Namun, tidak semua laki-laki yang mampu menjalankan peran tersebut. Karena kenyataannya, laki-laki juga banyak memiliki keterbatasan. Bahkan berada pada suatu keadaan yang membutuhkan perlindungan dari istri dan anak-anaknya.

Secara materil, ada kalanya seorang istri memiliki penghasilan lebih daripada suaminya. Ada saat, di mana seorang suami harus duduk di rumah memasak dan mengasuh anaknya. Ada keadaan yang memaksa dia tidak bisa lagi memberi nafkah dan perlindungan bagi anak dan istrinya. Mungkin itu karena sakit atau pun karena kehilangan pekerjaan. Hal ini perlu menjadi pertimbangan dalam mengkaji superioritas seorang laki-laki dalam rumah tangga. Di sisi lain, ada juga laki-laki yang secara sengaja keluar dari perannya sebagai pelindung. Dengan melakukuan berbagai macam bentuk kekerasan dalam rumah tangga, baik terhadap istri atau pun anak-anaknya.

Sistem patriarki yang telah menghegemoni seakan memang tidak pernah kehilangan powernya. Laki-laki masih menjadi aktor yang mampu mendominasi perempuan. Dalam masyarakat modern, ketika telah tercipta kesetaraan politik dan sosial antata laki-laki dan perempuan, laki-laki masih dituntut untuk menjadi pelindung. Bahkan pada tataran yang lebih luas. Sebagai pelindung komunitas di mana dia berada. Seperti yang kita lihat, sistem keamanan daerah yang masih didominasi oleh para lelaki. Aparat keamanan negara dan birokrat pemerintahan yang juga masih dikusai laki-laki.

Namun tidak bisa ditampikkan juga, bahwa laki-laki tidak dapat melaksanakan tuntutan konstruksi tersebut seutuhnya. Bahkan dengan kesengajaan, laki-laki mengingkari perannya sebagai pelindung. Banyak pelanggaran moral dilakukan oleh kaum laki-laki terhadap perempuan yang seharusnya mereka lindungi. Berbagai prilaku kriminal seperti pemerkosaan, perdagangan perempuan, dan pelacuran, merupakan beberapa fakta yang membuktikan bahwa laki-laki itu juga tidak bisa menjadi pelindung. Bahkan sebaliknya, menjadi sumber ancaman bagi keamanan perempuan. Berbagai kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak di bawah umur, banyaknya anak-anak yang mengemis dan terlantar dijalanan, semakin memperkuat dugaan tersebut.

Pada tingkat negara, seorang laki-laki yang menjadi  presiden seharusnya mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan kepentingan nasional. Kebijakan yang mengakomodasi seluruh kepentingan masyarakatknya. Serta memberikan rasa aman dan kesejahteraan bagi masyarakatnya. Namun dalam sistem internasional yang anarkis, adakalanya keputusan dari seorang presiden malah menjadi ancaman bagi negara lain. Ketika seorang presiden memutuskan untuk berperang dengan negara lain, yang menjadi korban justru masyarakat sipil yang tidak berdosa.

Hal yang lebih tidak manusiawi lagi, banyaknya pemerkosaan yang dilakukan oleh para kombatan yang berada di negara yang sedang di invasi atau diserang. Semakin banyak perang, semakin banyak terjadi pelanggaran HAM, semakin banyak anak-anak yang menjadi yatim, semakin banyak anak-anak yang lahir tanpa pernah tahu siapa bapaknya. Apakah ini masih bisa dikatakan sebagai suatu perlindungan? Bagaimana dengan tak-tik perang yang dengan sengaja memperkosa perempuan-perempuan daerah yang diserang untuk mencapai kemenangan. Bagaimana status Jugan Lunfu sebagai budak seks Jepang pada masa perang dunia 2?

Saturday, February 6, 2010

Coba itung-itung

Kuliah sepertinya emang barang mahal yang menjadi basic needs manusia dalam mencari ilmu. Apalagi di zaman yang serba edan sekarang, ketika biaya kebutuhan dasar hidup melayang tinggi, biaya kuliah juga ikut loncat-loncatan tinggi. Tapi sekirannya kuliah sudah dianggap sebagai kebutuhan primer manusia. Sudah setara dengan kebutuhan pangan, sandang, dan papan, sehingga mau tak mau, ikhlas gak ikhlas, sanggup tak sanggup, manusia harus tetap berupaya menraihnya.

Polemik lain, lulus kuliah dengan menyandang gelar S-1 bahkan dianggap masih belum cukup untuk menjadi seorang ilmuan ataupun seorang yang intelek. Kata salah satu dosen saya; "hanya akan menjadi tukang fotokopi"...loh??? Sehinnga kita juga dituntut untuk menyambar gelar master bahkan doktor. the good news are, S-2 masih bisa diklasifikasikan sebagai kebutuhan sekunder, S-3 tentunya masih digolongkan kepada kebutuhan tersier. Jadi masih bisa diabaikan.

Kejamnya kapitalisme barat agaknya tidak pernah menciptakan kesetaran ekonomi seperti yang selalu mereka khotbahkan. Malah sebaliknya, semakin membuktikan teori-teori akang Karl Max tentang kelompok proletar dan borjuis yang makin exist dalam dunia modern. Ini juga pastinya mempengaruhi pada gaya hidup masyarakat dunia. Kelompok borjuis, dengan segala macam kekayaan materi dan kekusaan yang mereka miliki, mereka bisa mendapatkan apa saja yang mereka "inginkan". Kedaan yang sangat bertolak terjadi kaum proletar di mana mereka tidak memiliki materi yang cukup, apalagi kekuasaan, dalam memenuhi "kebutuhan" mereka.

Gw highlight kata inginkan dan kebutuhan adalah untuk memperjelas bahwa antara ingin dan butuh sudah memiliki makna yang sangat berbeda. Dalam artian orang borjuis bertindak berdasarkan ke-Ingin-an, berarti bisa memilih. Sedangkan kaum proletar bertindak berdasarkan ke-butuh-an, yang bermakna tidak bisa memilih. make sense?? ntahlah....

Kegagalan pasar modal kapitalis, seperti yang kita lihat beberapa bulan yang lewat, sepertinya menjadi salah satu penyebab seluruh kebutuhan hidup jadi melambung tinggi. Liat di Amerika, kredit macet propertiyreal estate ternyata telah mempengaruhi sistem keuangan domestik bahkan global yang menyebabkan perusahaan kekurangan modal untuk melakukan produksi. Akibatnya, terjadi PHK massal. Domino Effect juga dengan sangat jelas terjadi di sini, wall street yang merupakan pasar saham terbesar internasional, yang memiliki kendali perekonomian sebagian besar negara kapitalis akhirnya ikut menyebarkan krisis domestik Amerika Serikat ke tatan global. Akibatnya, sebagian besar negara yang terkait dengan wall street terutama negara peng-ekspor, mengalami krisis yang tak kalah habatnya dari pada Amerika Serikat.

Krisis Ekonomi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998, setelah menjungkirbalikkan ketahanan perekonomian Indonesia. Sebenarnya tidak hanya Indonesia yang mengalami krisis, negara tetangga juga mengalami hal yang sama, tetapi mereka recovery dengan cepat. Indonesia? Dua belas tahun berlalu sepertinya belum memperlihatkan progres yang begitu signifikan. Ya, indonesia memang seperti negara yang KEKURANGAN GIZI, rapuh semenjak terlahir menjadi sebuah negara. Kalah jauh dari Singapore, sang penghianat Asia Tenggara, yang baru merdeka penuh dengan melepaskan diri dari Malayaia pada tahun 1965. Indonesia tidak pernah tumbuh menjadi negara yang kokoh secara politik, ekonomi, maupun ideologi semenjak memproklamirkan kemerdekaannya 17 Agustus 1945. Hal itu jelas diperperah dengan krisis moneter tahun 1998. Indonesia bagaikan ORANG TUA yang dicolong tongkatnya. Lumpuh, terseok-seok untuk kembali bangkit dan berjalan lagi.

naaah....saya sudah mulai bingung mencari main pointnya tulisan ini

Kembali kepermasalahan kuliah. Akibat krisis yang terjadi di negara kita yang tercinta ini. Harga melambung tinggi. Tingkat inflasi tahun 1998 mencapai 58.0%. Angka yang sungguh GILA. Itu artinya, barang yang kita butuhkan harganya naik 58% dan nilai tukar mata uang turun 58% terhadap suatu komoditi. Naiknya harga kebutuhan manusia tentu juga akan meningkatkan harga segala bentuk penjualan dan pelayanan yang diberikan oleh masyarakat. Guna menciptakan keseimbangan antara income dan outcome, baik individu, rumah tangga, perusahaan, insntansi, hingga negara.

Tidak terkecuali biaya kuliah yang kita bayarkan. Kuliah yang telah menjadi kebutuhan dasar manusia, juga mengalami penaikan berbagai bentuk biaya, baik SPP atau pun Biaya pembangunannya. Dan hal yang juga sangat perlu difikirkan adalah biaya Operasional yang tentu juga mengalami kenaikan harga. Diantaranya, Biaya kosan, Makan per hari, Ongkos Angkot, Tagihan internet/warnet, Beli buku, Fotokopi bahan-bahan kuliah, Pulsa (apalagi yang punya pacar), Nonton, Konkow-konkow bersama teman. Semuanya tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi harganya sudah melambung seperti layang-layang ketika Indonesia dilanda krisis yang tak kunjung sembuh.

Yaa, sebenarnya gw mau coba itung-itung biaya kuliah yang telah dikeluarkan selam 2,5 tahun kuliah ini. Bisa juga dipakai sebagai salah satu contoh kasusnya. Mmm...mungkin masih bisa dibilang murah dibanding Universitas-Universitas Swasta, atau pun Universitas Negeri yang sudah berstatus BHP.

start dari awal:
Transport Padang-Bandung: 2jt (brhubung ma orang tua)
Pengurusan SPP dan Pembangunan: 5jtu (angka pastinya lupa, tapi skitar sgitu)
Biaya operasional @bulan; 1jt (1x30 bulan); 30jt
SPP smster 2,3,4,5,6: semester genap @ 900rb(x3)+ smester ganjil @1jt (x2)= 5,7 jt
SP 2x; 1jt
Biaya kos: @tahun; 2jt x 3; 6jt
Peralatan; (Laptop, speaker, tv, lemari, kasur): 13, 5 jt
Biaya mudik; 5 kali mudik; 10 penerbangan, ambil rata @700rbx10; 7 jt
Biaya tak terduga (tambahan operasional): 3jt
Total: 73.200.000,-

Mmm...itu baru sparoh jalan kuliah gw, apalagi sampai tamat...(mudah2an ga molor, amin). Angka yang sangat fantastis. Belum lagi kalau masuk dengan tes UM, yang pasti biaya Pembangunan nya lebih mahal. Apalagi Universitas-Universitas swasta yang menerapkan pembayaran SPP berdasarkan hitungan SKS. Gw yakin, angkanya akan berlipat hingga sepuluh kali lipat.

Bagaikan belanja di toko. Setiap barang memiliki kualitasnya masing-masing. Mulai dari Ori, Kw-1, Kw-2, murah, hingga murahan, jurusan yang kita pilih dalam kuliah juga menerapkan sistem yang serupa. Makin bagus kualitasnya, makin banyak peminatnya, maka akan semakin mahal juga harganya. Jangan pernah berfikir kalau SPP FK akan sama dengan SPP KS (kesejahteraan sosial, bagi yang tidak tau).