Monday, December 13, 2010

AIDS: Senjata pemusnah massal

Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berkembang peseat seiring dengan terjadi fenomena globalisasi. Fenomena ini juga terjadi beringan dengan teknologi-teknologi lain seperti di bidang militer, kesehatan, pertanian dan lain sebagainya. Sehingga tidak sedikit juga lahan kerja manusia diambil alih oleh keberadaan teknologi. Banyak perusahaan dan industri yang kemudian memberdayakan robot karena dianggap dapat mengurangi biaya produksi.

Memang banyak dampak positif yang diterima oleh manusia dengan ditemukannya berbagai inovasi yang dapat membantu pemenuhan berbagai kebutuhan manusia. Namun, perlu diperhatikan juga bahwa tidak sedikit teknologi yang digunakan untuk hal-hal yang justru mengancam keamanan manusia itu sendiri. Oleh pihak-pihak tertentu dengan tujuan untuk mencapai kepentingannya sendiri. Seperti yang marak terjadi sekarang ini pencurian uang yang dilakukan melalui dunia maya dengan meng-hack berbagai account yang dituju.

Perang yang tidak berujung yang menghancurkan suatu negara dan membunuh jutaan manusia seperti yang terjadi di Irak adalah dengan alasan adanya kepemilikan akan senjata pemusnah massal oleh Irak yang lebih dikenal dengan weapon mass destructions (WMD). Walaupun tidak bisa dibuktikan keberadaannya, namun perang tersebut berhasil didalihkan dengan adanya teknologi yang digunakan untuk memusnahkan manusia-manusia tertentu. Sebaliknya, salah satu senjata pemusnah massal yang menghantui umat manusia saat ini justru tidak terlihat deperangi secara serius. Adalah AIDS, salah satu virus yang diciptakan oleh manusia yang dikenal dengan club of rome yang bertujuan untuk mengurangi jumlah penduduk bumi yang semakin crowded.
 
Diketahuinya tentang keberadaan virus ini adalah dari buku yang diterbitkan oleh club of rome yang berjudul the limits to growth. Buku ini membahas mengenai semakin berkurangnya sumber daya alam yang ada di bumi yang dikarenakan oleh semakin meningkatnya populasi bumi. Tulisan ini kemudian membawa kepada suatu indikasi bahwa club of rome telah menciptakan suatu virus yang dapat digunakan untuk membunuh manusia secara perlahan dengan menyarang sistem imun manusia. Virus ini kemudian dikenal dengan virus AIDS.

Sasara pemusnahan penduduk bumi di sini adalah terhadap mereka yang dianggap “tidak layak” untuk hidup. Diantaranya adalah masyarakat kulit hitam, kaum hispanik dan kaum homoseksual. Di benua afrika yang notabenenya merupakan benua dengan ras berkulit hitam terbesar di dunia, Virus AIDS disebarkan melalui vaksin cacar tahun 1977, penduduk Amerika Serikat terinfeksi tahun 1978 melalui vaksin Hepatitis B di pusat kontrol penyakti dan Bank Darah New York.
 
Bukti penting yang ditemukan orang-orang yang meneliti bahwa AIDS merupakan virus yang sengaja diciptakan adalah berkas catatan hasil penelitian; Progress Report AIDS tahun 1971. Indikasi ini mengabarkan langkah terkoordir melalui lebih dari 20.000 dokumen paper scientifik dan penelitian yang dilakukan selama 15 tahun oleh program federal untuk mengembangbiakkan virus yang identik dengan epidemologi AIDS.
 
Dokumentasi yang dipubilikasikan oleh freedom of information act menunjukkan fakta-fakta biadab bahwa masyarakat-masyarakat yang dianggap tidak layak untuk hidup dijadikan “kelinci percobaan” oleh Amerika Serikat selama lebih dari 70 tahun.
 
Seiring dengan perkembangannya, penyebaran virus AIDS di wilayah barat masih bisa dikendalikan. Namun tidak demikinan dengan Benua Afrika. Fakta menunjukkan virus ganas ini mengepidemi dan berkembang pesat melintasi Benua Afrika. Seorang pengurus Klub Roma menjelaskan bahwa buku the limits to growth secara keliru dipahami sebagai sebuah dokumen curang yang direkayasa. Setelah faktanya terungkap dia berkilah bahwa jutaan manusia telah mati akibat virus AIDS selama 25 tahun terakhir dan lebih dari 70 persen nya berasal dari epidemi AIDS yang terjadi di Afrika.

Disamping banyaknya dampak positif yang diberikan oleh inovasi-inovasi yang terjadi dalam bidang teknologi, namun tidak sedikit juga kejahatan yang dibantu oleh teknolgi. Sebagai pegguna dan pengonsumsi teknologi, sebaiknya kita lebih arif dan bijak dalam menggunakan teknologi yang ada. Karena berbagai bentuk tindakan negatif dapat dengan mudah dilancarkan dengan bantuan teknologi.

Refrensi:
Bradley, Michael. 2005. Secret Societies; 21 organisasi perusak dunia. Jakarta: Rajut Publishing

Sunday, December 5, 2010

Bukan Jalan-Jalan biasa, mengintip Singa yang pura-pura

Smiling just like Merlion does
Praktikum profesi yang merupakan salah satu kredit wajib dalam menyelesaikan studi hubungan internasional di Universitas Padjadjaran. Kegiatan ini biasanya diformat untuk mengunjungi suata tempat baik desa, kota, tempat wisata ataupun negara lain dengan tema yang telah ditentukan oleh pihak jurusan. SKS ini diposisikan di semester tujuh di mana para penstudi dianggap telah mampu mengaplikasikan salah satu atau berbagai teori dan konsep yang diberikan di kelas. Di sisi lain kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai kegiatan "liburan"yang penuh dengan kegiatan observasi atas satu dan berbagai fenomena di tempat tujuan.

Kecendrungannya, para mahasiswa mengunjugi negara-negara yang dianggap menarik dan representatif  dengan objek observasi. Seperti negara-negara yang ada di kawasan Eropa diantaranya, Belanda, Prancis, Jerman, Itali, dan Swiss. Slain itu ada juga yang mengunjungi negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand dan Singapura. Di bagian selatan juga tak ketinggalan negara Kangguru, Australia. Bahkan lingkungan domestik seperti Bali, Jakarta dan Pare. Penentuan kawasan yang dituju sesuai dengan kesepakaan para praktikan, yang sesuai dengan tema yang diangkat dan tentu juga yang sesuai dengan kantong mereka sendiri (dalam hal ini tentunya kemampuan finansial orang tua). Setiap tahunnya, negara ataupun kawasan yang dituju bisa saja berbeda-beda.


Pusat Informasi di Jalan Orchard
Dalam kesempatan praktikum yang sekali selama masa kuliah ini, saya dan beberapa teman mengunjungi negara Singapura sebagai wialayah untuk melakukan observasi. Tema yang diangkat tahun ini oleh tim dosen pembimbing adalah Glokalisasi dalam frase Think globally, act locally. Singkatanya, glokaliasasi merupakan suatu proses yang melokalkan nilai-nilai global. Kondisi ini bersifat top down. Sebagai feedback dari globalisasi di mana terjadinya proses pengglobalan dari nilai-nilai lokal. Jadi globalisasi dan glokalisasi dapat dikatakan sebagai fenomena yang terjadi secara beriringan dalam suatu cycle. Konteksnya, Globalisasi dan Lokalisasi terjadi beriringan dan menimbulakn efek glokalisasi.

Hal yang menjadi objek observasi saya dan teman-teman di Singapura terkait dengan tema yang diangkat adalah Keradaan Kopitiam dan Orchard Road di Singapura. Jelasnya kami terbagi ke dalam dua kelompok dari total 21 orang yang berangkat. Berhubung saya masuk ke dalam kelompok yang mengobservasi menganai Orchard Road, maka saya akan lebih banyak bercerita tentang Orchard. Selain itu, sedikit pandangan saya terhadap beberapa kawasan di Singapura.

Orchard Road, kawasan yang linear ini tentu tidak asing lagi bagi sebagian besar masyarakat dunia terutama yang suka berbelanja mengikuti trend hidup ala kapitalis. Yaa, suatu kawasan yang penuh dengan mall-mall super mewah dengan produk-produk branded yang telah dikenal secara global. Tak ayal, tentu dengan harga yang tidak semua orang mampu membelinya. Saya dan teman-teman juga hanya ngimpi bisa belanja di sana. Alhasil, yaa kita hanya observasi tanpa belanja, unless menemukan toko yang memberikan super sale, dan tentunya barang yang tidak highly branded.

Hal yang menarik bagi saya, dan mungkin juga teman-teman yang mengobservasi orchard, adalah bagaimana pemerintah Singapore mengoptimalkan wilayahnya yang tak lebih dari 711 km persegi tersebut menjadi wilayah yang sangat menarik dan ramai dikunjungi oleh para wisatawan dunia. Walaupun secara geoekonomi, Singapura terletak di posisi silang, yang merupakan wilayah transit transportasi dunia, antar barat dan timur, utara dan selatan. Namun kondisi ini tidak akan menjadi as good as what  they have now tanpa membangun fasilitas pariwisata yang memadai.
Sarana publik yang nyaman

Menilik kepada sejarah, Singapura memang terletak di kawasan Malaka yang merupakan pusat berlabuhnya para pedagang-pedagang dan kolonial dari kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Asia Selatan. sehingga saat itu, Singapura menjadi bagian dari Malaysia yang ramai di kunjungi oleh para pelayar dan pedagang. Namun saat ini, justru "kenyamanan" belanja yang disediakan oleh pemerintah Singapura lah yang menjadi daya tarik tersendiri dan dilihat lebih efektif.

Lihat saja Changi Internasional Airport, bandar udara ini berhasil dibangun menjadi bandara terbaik di dunia berdasarkan survei yang dilakukan oleh Skytrax World Airport (Kompas.com). Fasilitas yang disediakan memang luar biasa, mulai dari toilet, inter-faith praying room, taman, tempat bermain, FO, hingga pameran elektronik. I bet you it looks much better then Indonesia's malls.

Salah satu sudut Orchad malam hari
Kembali ke Orchard, banyak hal yang menjadi daya tarik orchard bagi para konsumen untuk datang dan belanja di Orchard.  Selain porduk-produk yang yang bersifat global dan branded, fasilitas yang memanjakan para konsumen juga sangat memadai. Pedestrian yang nyaman, area yag bersih dan ditutupi oleh pepohonan yang menyejukkan, tersedianya underpass yang menghubungkan antara satu mall dengan mall lainnya, money changer is like everywhere, directions dan visitor  \infromations centre yang memadai, ATM's, Banks, MRT yang memudahkan akses dan mobilitas para konsumen menuju suatu tempat tertentu, dan tak kalah krusial adalah banyaknya diskon dan low tax hingga free tax atas produk- produk yang dijual di Orchard.

Di sini kita melihat beberapa kebijakan pemerintah Singapura dalam mendukung pengembangan negaranya menjadi pusat wisata berbelanja dunia. Lebih jauh dalam studi ini, ini disebut sebagai kebijakan lokal yang kemudian akan terintegrasi dengan nilai-nilai globalisasi.
salah satu underpass orchard

Globalisasi di sini bisa diartikan sebagai  pola perpindahan masyarakat yang sangat cepat dari daerah pedesaan dan gaya  hidup pedesaan ke perkotaan dengan gaya hidup kita dan lebih dekat dengan global fashion, foods, markets dan entertainment trends (Friedmen: 1999). Kecerdikan pemerintahan Singapura membaca perkembangan globalisasi dan bergesernya gaya hidup masyarakat internasional menjadi kesempatan yang bisa menjadikan Singapura sebagai negara dengan perkembangan infrastruktur dan ekonomi tercepat di Asia Tenggara.

Salah satu alasan utama banyaknya para wisatawan yang datang berbelanja adalah karena harganya yang murah. Yaa, bagi mereka yang berasal dari dataran Eropa dan Amerika Utara tentu bisa berkata "murah" karena kurs mereka yang tinggi. In fact, negara-negara di kawasan tersebut juga memiliki GDP yang tinggi. Seperti wawarancara singkat dengan Alex dan Susane dari Swiss, harga di Singapura terhitung lebih murah dibanding dengan negara mereka. Para wisatawan yang datang ke Singapura kebanyakan hanya untuk singgah beberapa hari setelah menyelasaikan urusannya di negara-negara yang bertransit penerbangan di Singapura dan tentunya sambil belanja barang-barang yang mereka inginkan. Lain halnya dengan kita yang datang ke sana, atau mungkin sebagian besara masyarakat Indonesia yang datang ke Singapura. Ke Singapura memang dengan tujuan liburan, rehat dari berbagai macam aktifitas kerja dan mungkin kuliah.  Namun saya masih menyangsikan sebagian besar dari mereka datang untuk shopping  dan mampu membeli tas dengan harga S$ 5.000 or Higher. Instead, kita hanya mencari FO-FO yang memberi sale gede-gedean, yang penting belanjanya di Singapura, Who cares.

Dekat dengan kenyataan
Banyaknya FO yang memberikan harga diskon juga menjadi daya tarik tersendiri. Tapi dari observasi yang kami lakukan, FO yang memberikan diskon adalah yang memjual produk yang tidak begitu mahal. Dalam artian tidak highly branded. Kita tidak menemukan produk-produk seperti Louis Vuitton, Dior, Prada, Zara, Miu Miu, Burberry, BVLGARI memberikan diskon dengan jumlah tertentu bagi para konsumennya. Mungkin sebagai bentuk dari strategi marketing ataupun menjaga kepercayaan para pelanggan setianya, kami juga tidak begitu tahu. Dan kalau kita perhatikan, sangat sedikit sekali dari brand tersebut yang memiliki outlet resmi di Indonesia, mungkin karena memang sedikit sekali masyarkat Indonesia yang mampu membelinya.

Namun produk-produk yang mampu dijangkau oleh masyarakat menengah, sangat banyak memberikan diskon-diskon yang menggiurkan. Let's see, Giordano, yeah, most of us bought hell bunch of Giordanos, Rubi shoes, Cotton On, Levi's, Lacoste, GAP dan banyak lagi. Biasanya produk-produk ini lah yang rame di serbu oleh masyarakat kita. Cewe-Cewe mungkin ga bakal lupa Charles & Keith yang menurut pengamatan saya harganya masih masuk diakal namun masih cukup punya gengsi. In fact, saya melihat  sekelompok orang Indonesia yang berfoto di depan Outlet LV ION dan semuanya membawa Charles & Keith, bloody hell.


Bersambung,,,,

Monday, November 29, 2010

TKI : Pahlawan yang ternistakan

Akhir-akhir ini kasus penyiksaan terhadap tki yang dilakukan oleh majikannya kembali menjadi topik yang hangat diperbincangkan. Bukan sabagai bentuk antisipasi, tapi karena telah terjadi lagi kasus pembunuhan dan penyiksaan terhadap TKI yang ada di arab saudi. Memang seperti inilah watak pemimpin negara kita, tidak akan ada tindakan preventif dan penyelesaian juga alakadarnya dengan tingkat keberhasilan yang sangat rendah.

Akar permasalahannya bukanlah dari majikan yang tidak manusiawi, saperti yang ditudingkan. Walaupun fakta yang dilihat, para TKI kita dianiaya dengan sangat tidak manusiawi seperti tidak dikasih makan, tidak digaji, kekerasan fisik, bahkan kasus terbaru yang terjadi pada sumiati yang bibirnya digunting  dan kikim yang dibunuh dan mayatnya dibuang di tempat sampat. Memang miris dan sangat jauh dari nilai-nilai kemanusian, tapi secara internal, tentu kita perlu meninjau kembali beberbagai kekurangan yang terjadi dalam proses pengiriman TKI ke luar negeri. Jumlah TKI di luar negeri menurut angka statistik pemirintah mencapai 3,27 juta orang dan menurut lembaga pemerhati TKI Migrant Care, jumlah TKI mencapai 4,5 juta orang.  Hal yang sangat besar namun ditangani secara amburadul.

Jauh dari itu, pemerintah sendiri sebetulnya telah mengetahui sumber permasalahan dari TKI tersebut, tak jauh dari masalah kualitas dan manajement; runutannya begini:

1. Kurangnya manajemen pengiriman TKI: 
Hal ini sangat krusial dalam pendataan legalitas TKI yang dikirim ke suatu negara. Heran aja, kenapa banyak sekali agen-agen gadungan alias para calo bisa melakukan pengiriman TKI ke berbagai negara tanpa diketahui pemerintah. Seharusnya pemerintah selalu melakukan pemantauan-pemantauan langsung ke lapangan untuk memonitor pelaksaan pengiriman TKI. Sehingga pengiriman yang dilakukan selalu terdata dan berada dalam advokasi negara walaupun tidak sepenuhnya efisien dalam memberikan perlidungan atas hak hukum dan materi para TKI. Tidak seperti fenomena yang terjadi pada saat ini, agen-agen yang melakukan pengiriman secara ilegal menghilang setelah mendapatkan keuntungan yang besar, tanpa mau bertanggung jawab atas segala bentuk penganiayaan yang terjadi pada TKI.

2. Kurangnya soft skills para TKI yang kirim
Hal yang paling signifikan dalam komunikasi adalah kemampuan dalam berbasa. Kita tidak akan bisa berkomunikasi efektif apabila tidak bisa berbasa lisan yang baik dan benar. Permasalahan yang paling mendasar yang dialami para TKI kita adalah ketidakmampuan mereka berbicara dengan bahasa negara di mana mereka bekerja. Ini kembali kepada minimnya pembekalan yang diberikan oleh pemerintah maupun agensi-agensi swasta sebelum mengirim para TKI. Secara umum TKI yang dikirim tidak lebih dari lulusan sekolah dasar, yang pasti tidak memiliki kemampuan dalam berbahasa asing. Walapun hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) mereka tetap harus mampu berbahasa di mana mereka bekerja. Hal ini sebenernya telah dikatahui oleh pemerintah, khususnya PJTKI. Namun hingga saat ini, belum ada tindakan krusial yang dilakukan untuk memberikan kursus bahasa sebelum para TKI dikirim ke negara tempat mereka dipekerjakan.
Kekerasan terhadap para TKI di luar negeri secara umum didasari oleh kurangnya kemampuan berbahasa. Sehingga banyak pekerjaan rumah yang dilakukan tidak sebagaimana mestinya. Hal ini juga ditegaskan oleh Bapak Fahmi, salah seorang staff KBRI di Singapura dalam kesempatan kunjungan saya dan teman-teman ke Singapura tanggal 24 November yang lalu. Beliau menjelaskan bahwa kita sebenarnya harus membenahi terlebih dahulu kualitas para TKI yang dikirim. Sebagai contoh di Singapura, untuke mendapatkan seorang TKI bekerja sebagai PRT, seorang majikan harus membayar SG$ 3000. Hal itu meliputi berbagai biaya administrasi dan tiket TKI untuk sampai ke rumah mereka. Biaya yang mahal apabila tidak seusai dengan layanan yang diberikan tentukan akan menimbulkan emosi yang akhirnya bisa keluar menjadi tindakan kekerasan.

3. Kurangnya advokasi dari pemerintah
Advokasi dari pemerintah juga menjadi hal yang sangat krusial dalam penjaminan keamanan para TKI di luar negeri. Hal yang terjadi berlarut-larut hingga saat ini adalah penanggulagan masalah kekerasan terhadap TKI yang sangat minim.  Pemerintah tampak tidak pernah serius melindungi keberedaan TKI selama bekerja di luar negeri. Masalah yang seperti lagu lama yang diulang-ulang, ketika terjadi masalah, baru kocar-kocir itu dengan penyelesaian yang alakadarnya. Majikan yang melukakan kekerasan, penyiksaan, ataupun pembunuhan tidak pernah mendapat tindakan hukum yang adil. Jadi sejauh mana pemerintah serius dalam melindungi pahlawan devisa negara yang mampu menafkahi negara ini hingga 60 triliun per tahun? Apakah para TKI tidak layak mendapat perlindungan? Lalu bagaimana Indonesia ini mampu mengirimkan TKI yang berkualitas yang mampu bekerja cakap dan professional? Tanyakan pada orang yang menjabat!! Gw juga ga bisa jawabnya!!

Thursday, August 12, 2010

Untitled

Ini cuma secuil kenangan di masa abu-abu, tentang cerita konyol sewaktu menjalankan program Exchange Students di United States of America. Tentang hayalan masa depan yang sangat menggelitik. Yaah, lucu buat saya, karena emang saya yang mengalaminya. Dan bagi saya ini juga bagian dari motivasi.

Sekitar tahun 2005, saya dengan salah seorang teman sesama exchange student  yang sering chating-an ,yaa sama juga sih dengan gaya pertemanan saat ini, sering bercerita tentang mimpi, keinginan kita di masa depan yang mungkin hanya seperti dongeng-dongeng yang tak akan pernah berubah jadi nyata. Walaupun dengan teman yang bersangkutan tidak lagi terlalu sering komunikasi,setidaknya kita selalu ada ketika saling membutuhkan, bukan kah itu salah satu arti persahabatn? sebut saja dia Ms. X.

Selama tinggal di Amerika, ternyata kita melihat suatu kebisaan yang sama dari masyarakat setempat, terutama pada kalangan remajanya walaupun kita tidak berada pada state yang sama. Saya di Kansas, sedangkan dia di state bagian selatan (sangaja tidak disebutkan statenya). Kebiasaan itu adalah, makan perment karet, ga terlalu mengerti juga saya apa manfaatnya, tapi hampir sepanjang hari para remaja di sana mengonsumsi permen karet, apalagi siswa-siswi tersebut seorang atlet di sekolahnya.

Chatnya kira-kira begini:
Saya : eh, kamu liat ga, remaja-remaja Amerika itu suka makan permen karet
Ms.x : iya, mereka kayak kecanduan gitu ama permen karet
Saya :  coba yaah, klo kita bikin permen karet yang salah satu bahannya dikasih ganja, kan mereka teler tuh, lama-lama jadi kecanduan ama permen karet kita, kaya deh kita...
Ms.x : iya yah, kan di Aceh banyak ganja tuh, tinggal diproduksi aja di sana, murah...di export deh ke US, tapi klo kita di cariin ama FBI gimana??
Saya: gampang, tinggal ngumpet di basement, kan susah tu mereka nyariin kita
Ms. x : ooo, bener juga yah...tapi klo kita ketangkep, gimana?
Saya : oo gampang, aku tinggal bilang aja klo kamu boss nya, kan aku jadi bebas, kamu yang ditangkep
Ms.x: gubraaaakk!!, enak di kamu dong kalau begitu..
Saya : (nyengirrr)

Beberapa bulan yang lewat, saya dan Ms. X kembali berkomunikasi, yaah..akhirnya dia menanyakan juga, "Gimana rencana ekspor permen karet kita?", Walaupun tidak akan pernah terwujud, sebenar itu juga cita-cita yang kreatif, betul tidak? Yaa, mimpi yang sebenernya memacu kami untuk menggapai cita-cita kembali ke negeri paman sam. Tapi semua telah berubah, dan mimpi itu juga sangat kecil kemungkinan akan jadi nyata. Wallahu'alam bissawab.

Bermimpilah di setiap hembusan nafasmu kawan!! 
(alex, 2010)


Wednesday, August 11, 2010

Ga usah punya cita-cita, klo ga mw usaha

Sedikit Flahsback ke masa kecil, ketika kecil orang tua, guru, dan orang-orang terdekat sering menanyakan pada kita, "Kalau sudah besar nanti kamu mau jadi apa nak?", dengan semangat dan penuh keyakinan kita menjawab, "Aku mw jadi dokter / Aku mw jadi Pilot / Aku mw jadi Polisi / Aku mw jadi Presiden?" dan lain sebagainya, yang tidak kita sadari kalau ide tersebut berasal dari guru-guru kita di Sekolah Dasar. Walaupun tidak bersifat negatif, tapi juga tidak memberikan pengaruh psikologi positive yang cukup signifikan.

Ketika beranjak remaja, tanpa kita sadari, kita telah berada dalam konstruksi sosial yang cukup berbeda. Yaa, dengan segala bentuk gaya dan popularitas. Kondisi psikologi pada usia remaja kita cendrung mudah terpengaruhi oleh hal-hal yang ada di media. Hasilnya, ketika kita ditanya teman-teman, "Cita-cita lu mw jadi apa?", jawabannya pun akhirnya berubah dari apa yang kita jawab sewaktu ditanya ketika masih duduk di sekolah dasar. Kita menjawab, "Gw pengen jadi anak band / Gw pengen jadi pemain bola / Gw pengen seperti David Beckham / Gw pengen jadi artist, dan lain sebagainya. Yaa, cita-cita masa kecil kita akhirnya tinggal kenangan bukan? Sungguh kasian para orang tua kita, guru, dan orang-orang terdekat yang dengan sukses kita bohongin dengan cita-cita masa kecil kita yang ternyata mendadak berubah ketika kita remaja. 

Dalam usia dewasa, atau masa kuliah,  dengan sedikit kematangan pemikiran, cita-cita masa kecil dan remaja juga terkikis dengan status quo yang ada. Orang tua kembali memberi pertanyaan yang sangat mulia itu dengan penuh harapan dan untaian Do'a. "Mw jadi apa kw nak?", dengan polos kita menjawab, "Ga tw mak, bingung, kuliah juga belom selesai-selesai, nyari kerja susah, para sarjana juga banyak yang jadi pengangguran". Well..well..well, kondisi berubah menjadi semakin buruk.  Dari Dokter / Presiden / Artist / Pemain Bola, sekarang berubah menjadi NIHIL. Durhaka sekali kita sama orang tua, menghancurkan setiap tetes harapan dan doa yang diberikan kepada kita. Aaahh...ternyata kita tidak bisa menjadi anak yang sesuai dengan harapan orang tua, guru, bahkan diri kita sendiri. Haruskah disalahkan ibu yang mengandung? eeuummm... tentu tidak yah? 

Hidup adalah perjuangan, perjuangan untuk kita kembali bernafas dipagi hari ketika mata kembali terbuka.  Perjuangan untuk memenuhi seluruh kebutuhan perut, kebutuhan rohani, hingga materi. Perjuangan menempuh detik-detik yang berjalan untuk membangun cita-cita kita yang suatu saat nanti insyaAllah akan menjadi kenyataan. Dan perjuangan itu tidak pernah mudah, berliku dan berbukit seperti jalan ke rumah saya (heh). Perjuangan merupakan mesin dari cita-cita kita.

Bagi saya, cita-cita sepertinya hanya hayalan yang menjadi motivasi, cita-cita bukan tujuan utama,  tapi tujuan utama saya adalah kesuksesan menjalankan takdir. Yaa, banyak orang yang ga bisa mencapai cita-cita lalu kemudian putus asa. Kita telah punya garis hidup masing-masing, hanya tergantung usaha dan doa kita untuk menentukan akan kan jalan itu tetap licin dan lurus, atau harus berbelok, berbukit dan berlobang.

Hidup ini berputar, seperti bumi yang berotasi dan berevolusi.
Ikhtiar, Do'a dan Ikhlas adalah kunci sukses utama, Tawakkal 'alallah, biar kan Allah yang menentukan masa depan terindah buat kita. 

Saturday, August 7, 2010

Kangen Rumah sendiri!!

Sedikit bercerita tentang hidup. Ga tau kenapa skarang kepikiran buat nulis tentang kehidupan pribadi. Lagi melow kayaknya.lol.

Terlahir dari keluarga yang Alhamdulillah penuh kesederhanaan di sebuah desa di bagian selatan Sumatera Barat, sekitar 23 tahun silam. Sudah tua ato masih mudah?? itu subjektif lah yah...Dalam 23 tahun menapak di bumi ini, sepertinya sudah sangat banyak pelajaran hidup yang saya dapat, walaupun sebenarnya masih sangat minim pengalaman dibanding temen-temen yang mungkin lebih muda dari pada saya. Pastilah kita tidak pernah memiliki jalan hidup yang sama. Setiap orang memiliki skenario dan romansa-romansa tersendiri. Semua tergantung ikhtiar dan takdir.

Tamat sekolah dasar tahun 1999, berumur 12 tahun, saya melanjutkan pendidikan ke Pesantren, Pesantren Modern Terpadu Prof. DR. Hamka. Tempat di mana saya menimba ilmu dan melanjutkan pendidikan lebih kurang 6 tahun. InsyaAllah dilain kesempatan saya akan bercerita tentang kehidupan di Pesantren. 

PMT Prof. DR. HAMKA, demikian sering disebut, terlatak cukup jauh dari rumah orang tua saya, sekitar 5-6 jam perjalanan, tepatnya di Desa Pasar Usang, Kec. Batang Anai, Kab. Padang Pariaman, 28 km dari kota Padang ke arah Utara. Dan karena Pesantren, saya tinggal di Asrama. Yaa mungkin itu awal di mana saya tidak lagi tinggal bersama orang tua. Nangis? pastinya nangis, bukan karena cengeng, tapi memang karena psikologi, dan masuk pesantren yang didorong dengan niat untuk membahagiakan orang tua, bukan niat sendiri yang ingin mencari ilmu di negeri orang, betualang atau pun niat buat belajar agama. Tapi yang pasti, saya sangat bersyukur telah menjadi santri di sana.

Tamat SMP PMT Prof. DR. Hamka tahun 2002. Alhamdulillah dengan nilai yang cukup memuaskan dan bisa masuk sekolah-sekolah favorit di kota Padang. Tapi sedikit pun tidak pernah terlintas untuk balik ke kampung halaman dan melanjutkan pendidikan di sana. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya melanjutkan SMA di pesantren yang sama. Syukran lillahita'ala saya sangat cinta pesantren Hamka.

Tidak tahu pantas atau tidak, tahun 2004-2005 saya dapat kesempatan untuk jadi an Exchange Student ke Amerika Serikat, dengan program AFS-YES yang dibayai langsung oleh Pemerintah Amerika Serikat. ALHAMDULILLAH, senang karena bisa ke luar negeri, apalagi Amerika Serikat, dengan Beasiswa penuh, tapi saya lebih bahagia karena bisa bikin bangga kedua orang tua dan keluarga.

Selama di US tepatnya, State Kansas, saya hidup dengan Host Family, Keluarga angkat, yaaah, lagi-lagi saya hidup jauh dari keluarga, tidak asrama, tidak kos, tapi numpang. Alhamdulillah dapat keluarga yang sangat luar bisa, Thanks Mr. Wayne Wilmer for my ten days stay, bunches of thanks to Moussa Elbayoumy Family, Maggie, and Nora, (I miss u all guys), yang telah menampung dan menjadi keluarga saya selama 11 bulan di US.

Balik dari USA tahun 2005, saya melanjutkan pendidikan di pesantren, again balik ke asrama. Tahun 2006, keterima di IPB, lagi-lagi harus tinggal di Asrama, namun karena tidak betah, saya kabur dari IPB, balik ke Padang, les dan kos. Yaaa..mulai saat itu, status domisili saya berganti menjadi anak kost-an. Hingga sekarang, saya sudah menjadi anak kost-an lebih kurang 4 tahun, hidup di asrama 6 tahun, tinggal sama keluarga angkat 1 tahun, dan 12 tahun bersama orang tua. 

Sebagian dari hidup saya telah berada di luar keluarga besar. Hingga sekarang saya hanya ketemu orang tua ketika masa libur datang, kadang 6 sekali, kadang setahun sekali. Pastinya sangat kangen dengan kehidupan di rumah, bersama keluarga, dengan kehangatan kasih sayang orang tua. Namun saya masih beruntung, Alhamdulillah, masih memiliki keluarga yang utuh dan selalu ada buat saya.

Akan tetapi, yang saya kangenin bukan kembali ke rumah orang tua dan tinggal bersama mereka. Tapi membawa orang tua saya tinggal bersama saya, di rumah yang saya bangun dengan usaha saya sendiri. Aaahh..sungguh indah kalau itu terjadi, don't u think fellas??, orang tua saya pasti akan sangat bahagia. Yaaa..mungkin akan menjadi salah satu perkara yang paling membahagiakan dalam hidup saya. 
Semoga Allah swt berkenan mengabulkan..Amin
Mimpi terbesar saya adalah bre Haji bersama Ayah, Mama, Kakak, dan Adik.
Semoga Allah memberikan jalan yang diridhoi...Amiin...

Ngarep boleehh

Spelintir Curhat
Ini sebenarnya cuma harapan dan doa, semoga Allah berkenan mengabulkan, Amin.
Walaupun tidak terniat buat segera menikah, masih ingusan, pengangguran, dan blum punya penghasilan, tapi mungkin bisa menjadi motivasi untuk segara melangsungkan.
euumm..sedikit malu untuk membicarakan hal ini, tapi ga papa lah, itung-itung perkataan sebagian dari doa.
Oke, ini berbicara mengenai kriteria calon istri idaman, idaman saya tentunya.lol.
ga muluk-muluk sih;

1. Sholehah
Pastinya setiap suami menginginkan istri yang sholehah toh? Beriman dan Bertaqwa kepada Allah swt dan Rasulullah saw. Istri yang selalu berjalan di Agama Allah, yang selalu menjaga diri, sikap dan hati. Istri yang selalu berjalan sesuai dengan agama menjadi pendamping bagi suaminya. Taat agama, dengan selalu menjalankan ibadah-ibadah wajib dan sunnah. Tidak lupa selalu membaca dan mengamalkan kalimat-kalimat alqur'an. Selalu menutup diri dan aurat dengan pakaian-pakaian yang benar menurut agama. Istri yang selalu menjaga diri untuk suami dan bisa menjadi imam pengganti bagi anak-anak nya ketika suaminya tidak di rumah.

2. Sederhana
Kenapa sederhana? Biar tidak buta dengan kehidupan dunia. Tidak gila harta dan senantiasa mensyukuri apa yang dititipkan Allah swt kepadanya. Mensyukuri nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya. Tapi bukan berarti hanya pasrah. Tidak riya dalam bersikap. Yaah, saya sangat mengharapkannya, pandangan lain, siap untuk hidup dengan segala keterbatasan, baik fisik maupun materi. Dan dapat berinteraksi dengan segala bentuk kalangan masyarakat. Menjadi intan di tengah lumpur dan permata di padang pasir.

3. Pintar
Kenapa harus pinter? pada dasarnya manajer rumah tangga adalah ibu. Dan seorang manajer tentunya harus pinter dan baik dalam memanaje anggotanya, tindakan, sikap, agama dan pengetahuan, hingga manajemen materi. So, istri yang pinter saya anggap yang capable dalam manajamen semua aspek tersebut. Selain itu istri yang pinter juga pastinya bisa memberikan solusi yang baik bagi setiap permasalahan yang dihadapi suaminya. Sehingga setiap masalah rumah tangga dapat diselesaikan dengan musyawarah dan bijaksana.

4. Enak dilihat
Wew, ga boleh munafik, penampilan fisik juga menjadi salah satu pertimbangan saya. Ga mesti cantik, ato manis, karena itu semua sangat subjektif. "Enak dilihat" bisa berasal dari inner beautynya yang didukung dengan penampilan fisik. Well, karena bagi saya, fisik juga bisa menjadi penenang, yaa mungkin candu. Analoginya, ketika kita melihat ikan yang berenang di akuarium dengan keindahan corak dan warnanya, pasti akan memberikan ketenangan tersendiri bagi diri kita. Yaa mungkin begitu, klo dijabarin detailnya takutnya menimbulkan salah paham, karena saya juga tidak bisa menuliskan kata-kata hiasan yang indah seperti pujangga apalagi Al-qur'an.

Segelintir harapan dan doa buat masa depan, semoga Allah swt mengabulkan, Amin.
Namun apa pun yang saya terima, semuanya pasti yang terbaik dari Allah swt.

ps: temen-temen yang bejat dan kurang bijaksana.wkwkwk.., ini bukan joke yah, jadi tolong diambil peljarannya aja...hidup kita berjalan.