Friday, November 18, 2011

Anak kampung gegar budaya! e.1

Hei..saya cuma ingin bercerita tentang gegar budaya atau Culture shock dalam bahasa bule nya. Para pembaca mungkin sering mendengar, tapi sedikit yang pernah mengalami. Kebetulan saya pernah mengalaminya dan ingin berbagi pengalaman dengan para pembaca sekalian.

Agustus tahun 2004. Saya ikut program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat. Alhamdulillah yah. Di Amerika Serikat saya tinggal dengan keluarga angkat (host family), di Lawrence KS. Elbayoumy Family. Bapak dan Ibu keduanya asli Mesir. Tapi keduanya sudah menetap lama dan menjadi warga negara Amerika Serikat.

Sebelum bertemu keluarga Elbayoumy, saya tinggal dengan keluarga Wayne Wilmer. Seorang duda, Afro American yang bekerja sebagai perawat. Saya sempat tanya kenapa dia berpisah dengan istrinya, alasannya, karena perempuan itu ribet, lebih baik hidup sendiri dari pada dengan istri. Agak aneh sih, tapi tidak ada indikasi juga kalau dia gay
Perjanjian awal, saya memang tinggal sementara dengan Mr Wilmer, sampai dapat keluarga yang mau menampung saya selama sebelas bulan masa program saya di Amerika. Selain saya, dia juga mengambil ada pertukaran dari Jerman. Namanya Paul. Tapi Paul akan stay sebelas bulan dengan dia, beda dengan saya. 

Di Kansas saya sekolah di Lawrence High School. Tidak begitu jauh dari rumah keluarga angkat saya. Setiap harinya saya di antar jemput. Terkadang oleh Ayah, kadang oleh Ibu. Tergantung siapa yang sempat jemput atau antar. Well, berasa sangat dimanjakan, karena dari TK saya tidak pernah di antar jemput, apalagi selama di Pesantren, semuanya serba mandiri dan sekolah juga satu lingkungan dengan asrama.

Awalnya semua terasa biasa saja, walaupun pada awal sebelum berangkat saya dan teman-teman yang berangkat ke sana sudah dibekali dengan berbagai cerita dan pengalaman para senior tentang bagaimana kehidupan di Amerika Serikat. Bagaimana culture shock pasti bakal kita alami. Tapi saya belum merasakan sampai saya mulai sekolah di Lawrence High School.

Benar saja, apa yang telah dibekali kepada kami.  Benar apa yang kita sering kita tonton dalam film-film hollywood tentang kehidupan Amerika Serikat. "United States is a free country, man". Begitu kata Matt salah satu temen kelas saya. Amerika Serikat negara yang memberi kebebasan bagi setiap individunya mengekspresikan emosinya, selama tidak mengganggu orang lain dan tidak ada kekerasan fisik, rata-rata masih dianggap wajar.

Hari pertama sekolah, pertama kali yang ditemui adalah kepala sekolah. Kepala sekolah ini aneh, tidak seperti kebanyakan di Indonesia yang berpakaian rapih dan necis. Yah walaupun tidak ada parameter yang pasti dalam kata rapih dan necis. Tapi  mungkin pembaca tau bagaimana yang saya maksud. Kepala sekolah saya seorang ibuk-ibuk yang dandanannya norak. Berkulit hitam, tapi rambutnya disemir putih. Persis seperti uban. Bulu mata lentik dan diextend. Kuku sepuluh jari tangannya semuanya panjang, mungkin masing-masingnya 10 cm. Pakaiannya serba nge-press, pakai high heels dan rok sepuluh senti di atas lutut.

Enaknya sekolah di Amerika Serikat, kita bebas memilih pelajaran yang kita suka, sesuai dengan minat dan bakat. Tapi biasanya ada pelajaran wajib yang mesti diambil, seperti math, US History, and English. Ini juga tidak sama di setiap sekolah, masing-masing sekolah punya kebijakan masing-masing. Berhubung saya katrok dan ga ngerti apa-apa, sudah saja saya memilih pelajaran sesuka hati. Pertama, saya bilang, "I don't wanna take math class." Berhubung saya student exchange jadinya dibolehkan. Selain itu saya ambil Lifetime sport, photography, chemistry, US History, and English. Semunya memang pelajaran gampang dan saya sengaja, ngapain susah karena sebenarnya misi ke sini adalah untuk bergaul, bukan jadi peneliti atau penstudi.

Hari pertama sekolah, saya diberi first friend. Semacam guide, yang memandu saya sampai saya terbiasa dengan aturan dan keadaan di Lawrence High. Mungkin supaya saya tidak nyasar juga nyari kelas dan makan siang. Atau supaya saya tidak kesepian? Mungkin juga yah. Namanya Knox. Asalnya dari Tonga. Salah satu negara kecil di Samudera Pasifik. Badannya gede, segede kingkong, tingginya nyaris 190 cm. Sedikit gendut, tapi memang dasarnya orang pasifik gede-gede, saya juga bingung kok ada yah orang segede gini. Pas salaman, dia mengulurkan tangan kiri. Ternyata kebanyakan di negara-negara Pasifik orang berasalaman pake tangan kiri, bukan seperti kita yang pakai tangan kanan, awkward, akhirnya saya mengulurkan tangan kiri juga yang tadinya sudah sempat mengulurkan tangan kanan. Katanya kalau di sana, yang begitu sudah biasa, kebanyakan American pakai tangan kanan, tapi sebagian ada juga yang pakai tangan kiri.

Nggak hanya sebagai teman, Knox, juga menawarkan diri jadi bodyguard saya. Berhubung saya sangat kecil, mungkin dia khawatir dengan keselamatan dan kelangsungan hidup selama sekolah di sana. Dengan senang hati saya menerima penawaran dirinya. Body guard gratis, kapan lagi coba?

Tuesday, November 1, 2011

Sumpah Pemuda-Janji Kita?

Groningen, 1 November 2011
Oleh: Michelle Ayu Chinta Kristy

Selamat datang November 2011! Mungkin note ini akan dirasa terlambat ketika saya beri judul Sumpah Pemuda Indonesia, karena perayaan Sumpah Pemuda dirayakan pada tanggal 28 Oktober yang lalu. Namun akan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Tulisan ini murni pemikiran saya atas refleksi hidup saya dan bagaimana saya memandang tentang negara saya ketika berada di kota kecil di negara yang dulu menjajah negara Indonesia selama lebih kurang 350 tahun. Negara yang membuat para pemuda di negara saya mengkumandangkan yang mana selanjutnya kita sebut SUMPAH PEMUDA.

Saat ini saya berusia 24 tahun, memang usia yang masih dini dari segi pengalaman hidup, namun sudah cukup matang untuk dapat mengungkapkan pandangan mengenai negara Indonesia, khususnya pada note ini: bagaimana Indonesia, pemuda, dan janjinya.

Merupakan sebuah fakta bahwa semakin sedikit pemuda yang memikirkan bangsa sedemikian dalam sebagimana pemuda pada tahun 1928 yang sedang berperang demi menggenggam harga kemerdekaan. Namun hal ini merupakan sesuatu yang wajar bagi saya, terlebih kondisi sudah berubah dan tujuan yang akan dicapai pemudapun sudah berubah. Kondisi tahun 1928 dan 2011 memang tidak bisa dibandingkan.

Terlepas dari itu, pada tepatnya perayaan sumpah pemuda yang lalu, saya juga melihat berbagai notes yang mana mengungkapkan kekecewaan tentang janji pemuda saat ini yang mana diekspresikan bahwa sumpah pemuda yang dulu begitu sakral, saat ini dinilai hanya dipandang sebagai hari nasional belaka. Secara jujur saya kecewa juga dengan notes ini. Ungkapan kekecewaan yang berlebihan menurut saya. Bukan berarti saya apatis dengan makna sumpah pemuda, tapi sebaliknya, karena saya peduli dan ingin dengan menggunakan cara positif untuk membuat rekan-rekan muda sadar bagaimana janji pemuda masa kini untuk Indonesia diungkapkan.

Terkadang saya juga berpikir, sejak 1928 sampai sekarang, sudah ada berapa siklus pemuda yang berputar. Sudah ada berapa anak bangsa pula yang mengenyam banyak pengalaman atau mungkin bersekolah di luar negeri (dalam konteks dengan pengalaman saya saat ini). Berapa banyak pemuda Indonesia yang sudah menelan berbagai prestasi dunia. Namun pertanyaan klasik yang muncul, bagaimana bisa pemuda yang pintar dan berpengalaman (bayangkan ada berapa ratus bahkan ribu pemuda-pemudi Indonesia yang mengenyam pendidikan di berbagai negara di dunia setiap tahunnya) ini belum mampu membuat bangsa yang diidam-idamkan menjadi terwujud. Bagaimana bisa pemuda belum dapat melakukan pemerataan kesejahteraan dan kualiatas kehidupan di Indonesia secara merata. Saya tidak bilang pemuda gagal, karena sudah ada banyak kemajuan di bangsa kita, namu hanya saja belum berhasil sebagaimana yang diharapkan.

Masalah utama dan pertama sebetulnya adalah pemerataan kesejahteraan dan informasi yang membuat tingkat laju perkembangan hanya berputar pada lingkaran yang sama atau melebar tidak jauh dari pusat lingkaran. Kesenjangan sosial juga masalah utama yang ada di kalangan pemuda Indonesia. Rasanya harus berdarah-darah bagi seorang pemuda yang tidak berada pada pusat lingkaran yang saya maksud di atas untuk berjuang dan (dalam konteks saya saat ini) mengenyam pendidikan di luar negeri. Namun, di perspektif mata yang lain, hal demikian bukanlah hal yang sulit bagi beberapa pemuda yang berada dalam atau dekat dengan lingkaran yang saya tulis di atas. Lepas dari itu semua, saya tidak mau mendiskusikan mengenai lingkaran ini lebih lanjut - di luar konteks tulisan saya ini.

Saya jujur bukan merupakan pemuda yang suka dengan demo dan teriakan keras kepada beberapa elite politik yang sedang beroperasi di negara kita ini, saya tidak suka dengan cara ini, bukan berarti tidak setuju. Dalam opini saya, cara tersebut sama sekali tidak elegan. Menurut saya teriakan mencaci makin sistem dan para elite politik adalah hal omong kosong, nasionalisme terlalu cetek untuk diungkapkan dengan cara tidak elegan itu. Walaupun saya akui, pergolakan politik secara besar-besaran pada tahun 1998 memang terjadi karena peran pemuda yang secara massive membuat demonstrasi besar-besaran serta menduduki gedung MPR dan DPR (ini salah satu jawaban lain dari sumpah pemuda bangsa kita di tahun 1998). Namun saya katakan tidak elegan ketika hal ini dilakukan berkali-kali dalam lingkup yang lebih kecil dan masa yang tidak begitu banyak. Sudahlah, jadikan itu sejarah dan temukan cara elegan lain untuk melakukan perubahan bangsa yang lebih baik lagi ( bangsa kita sudah berubah menjadi lebih baik, hanya belum yang sesuai yang diidam-idamkan).

Hal sederhana dan realistis lebih menjadi sebuah opsi untuk saya. Salah satu contoh bentuk aktivitas yang mana sangat saya berikan apresiasi yang setinggi-tingginya adalah program Indonesia Mengajar. Program ini adalah program cerdas yang merupakan bentuk nyata dari sumpah pemuda Indonesia saat ini. Cara lain untuk mengungkapkan janji pemuda secara positif adalah belajar bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan. Contoh nyata adalah pelajar dan belajar. Bagaimana segala tindakan positif kita dapat memberikan pengaruh positif kepada banyak orang, dimulai dari orang-orang yang berada di sekeliling kita. Keberlanjutan merupakan elemen lanjutan dari tindakan positif sederhana dan realistis. Dengan elemen ini, energi positif yang membawa pada hasil yang lebih baik dan besar dapat dicapai.

Tanpa disadari banya cara-cara yang bisa ditempuh untuk mengungkapkan janji pemuda Indonesia di era yang baru ini. Pemuda merupakan sosok dan sumber yang kuat dalam melakukan perubahan, karena optimisme pemudalah apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Mari pemuda Indonesia, jangan menjadi tong kosong nyaring bunyinya, tapi jadilah padi yang merunduk karena berisi. Indonesia butuh kecerdasan, optimisme, dan energi positif dari pemuda-pemudinya untuk mendobrak sistem yang dirasa masih kurang efektif di negara kita untuk mewujudkan Indonesia yang diidam-idamkan.

Indonesia adalah bangsa yang besar di dunia. Bangsa yang dunia seharusnya lebih tau lebih tentang kita. Sudah saatnya Indonesia menggigit dunia dan membuat dunia takut dengan Indonesia. Mari para pemuda-pemudi, ini adalah waktu yang tepat untuk kita melakukan sesuatu yang positif di bidang kita masing-masing dengan energi positif kita, kita bersama mengigit dunia! :-)

Salam hangat dari Belanda,
Michelle

Monday, October 31, 2011

Komodo dalam New7Wonders cuma temporary

Dukung P. Komodo untuk menjadi New7Wonders dangan mengirim SMSke 9818. Tarif Rp. 1 per SMS. Kurang lebih begitu iklan yang disampaikan oleh berbagai media masa akhir-akhir ini. Secara pribadi, menurut saya ini agak picik, karena meminta voting yang subjektif dari masyarakat Indonesia. Tentu saja Indonesia berupa semaksimal mungkin meminta dukungan masyarakat Indonesia dengan populasi yang mencapai 240 juta jiwa. Seakan menyanjung diri sendiri. Lagian tidak semua voter yang mengerti kenapa mereka harus mendukung Taman Nasional Komodo menjadi New7Wonders.  

Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi mengapa Komodo kembali menjadi nominee dalam New7Wonders setelah Indonesia menarik diri pada awal tahun ini, karena harus membayarkan uang US$ 45 juta ke Yayasan New7Wonders. Pastinya, sekarang pemerintah menggalang kampanye agar masyarakat memberikan dukungan demi meloloskan "proyek" ini.

Saya pribadi tidak menolak atau pun mendukung kampanye ini. Dengan berbagai pertimbangan. Tidak lebih ini hanya mengkapitaliskan pariwisata-pariwisata dari berbagai negara yang ikut serta. Yang mutlak diuntungkan pastinya Yayasan New7Wonders. Karena faktanya New7Wonders hanya lembaga swasta yang tidak berwenang di bawah UNESCO.

Positifnya, kalau memang Komodo masuk dalam New7Wonders tentu ini akan jadi marketing yang sangat luar biasa bagi pariwisata Indonesia, khususnya di Taman Nasional Komodo. Namun tidak berarti harus menjadi salah satu New7Wonders untuk memajukan pariwisata Taman Nasional Komodo. Banyak hal yang lebih krusial dari hanya sekedar periklanan melalui Yayasan New 7 Wonders. Dan sebenarnya UNESCO juga telah menetapkan Taman Nasional Komodo sebagai salah satu World Heritage pada tahun 1986.

Saya melihat bahwa perlindungan terhadap kelangsungan hidup hewan langka ini jauh lebih penting dari sekedar popularitas. Kalau Komodo bisa bicara, mungkin mereka akan bilang : "Saya tidak peduli dengan 7 keajaiban dunia, yang penting lindungi saya dari kepunahan". Survey  menunjukkan kalau populasi komodo semakin berkurang, tersisa sekitar tiga ribu ekor di P. Komodo. Itu diakibatkan oleh makin terbatasnya bahan makanan dan kebakaran hutan.

Dengan hanya menjadi nominee New7Wonders itu sudah cukup memperkenalkan Taman Nasional Komodo ke dunia internasional. Tidak mesti menang, karena yang lebih penting adalah memperbaiki pariwisata Indonesia itu sendiri. Perbaiki Infrastruktur, sistem informasi dan transportasi, penuhi kebutuhan hospitality, dan packaging pariwisata Indonesia.

Semakin ke timur, Indonesia semakin minim pembangunan. Seolah sudah menjadi aib kita bersama. Padahal banyak sekali potensi pariwisata yang bisa dikembangkan di bagian Timur Indonesia. Sayangnya pemerintah tidak terlalu punya perhatian untuk menggiatkan pembangunan infrastrukturnya, sehingga para touris baik dari dalam maupun luar negeri jadi urung untuk datang.  Biaya transportasi juga relatif mahal. Taman Nasional Komodo juga minim akan pembangunan. 

Saya berharap dengan masuknya Taman Nasional Komodo sebagai salah satu nominee New7Wonders bisa mendokrak popularitas dan jumlah turis yang datang ke TN Komodo. Dan yang lebih penting adalah pemerintah perlu memperbaiki packaging pariwisata Indonesia, khususnya TN Komodo di sini. Percuma kalau tourist datang namun mereka tidak mendapatkan kenyaman dan kemudahan dalam kunjungan mereka. Sehingga promosi dari mulut ke mulut sulit terjadi, kecil juga kemungkinan mereka akan datang kembali berkunjung. Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan improvisasi dalam pariwisata Indonesia. Mungkin dengan dengan membuat paket wisata yang dikelola resmi oleh pemerintah ataupun bergabung dengan lembaga swasta yang mengekslporasi berbagai keanekaragaman budaya dan  kekayaan alam Indonesia.

Sunday, October 30, 2011

Ngelayap ke Singapore

Ini kali kedua saya ke Singapore, setelah urusan kuliah setahun yang lewat. Walaupun ga terlalu tertarik dengan negara kecil ini, tapi tetep senenglah kalau yang namanya urusan traveling, apalagi dapet gratis. Ga ada doa penolak rezeki kan?
Cuma jalan kali ini berbeda dengan tahun lalu, tahun lalu judulnya penelitian, pengamatan, observasi atau apalah, kalau sekarang, backpacker-an atau lebih tepatnya"ngegembel. Dan pastinya ini jauh lebih menarik.
Saya sering backpacker-an dengan beberapa teman kampus ke berbagai tempat di Indonesia, walaupun ga jauh-jauh amat, karena memang disesuain dulu dengan kantong mahasiswa pengangguran kayak kita. Tapi baru kali ini saya backpacker-an ke luar negeri, walaupun cuma Singapore yang easy to go banget, tapi cukup lah buat pemula.
Singapore negara relatif kecil hanya 710.2 km2 . Infrastruktur umum seperti SMRT dan Bus juga sangat bagus. Sangat mudah untuk berkeliling negara ini, cukup dengan naik sarana transportasi umum yang ada. Jangan takut nyasar di Singapore, karena di mana-mana map of singapore sangat mudah ditemukan, jadi tinggal baca map atau datang ke singapore visitor centre. 
Kalau mau traveling, biaya pasti jadi pertimbangan pertama. Apalagi buat backpacker,  walaupun terkadang sanggup bayar mahal, cuma traveling dengan cara yang seirit-iritnya memberikan sensasi tersendiri.
Supaya dapat backpacker-an ke Singapore dengan biaya murah, dari pengalaman saya, ada beberapa tips.

Pertama tentu cari tiket murah. Rata-rata, Maskapai ke Singapore adalah Low Cost, kecuali dengan maskapai kelas atas seperti Singapore Air. Tiger Air, Air Asia, Lion Air, biasanya sering ngasih promo untuk rute Singanpore-Jakarta. Kalau beruntung bisa dapat kurang dari 700 ribu untuk tiket pp. Jarak booking tiket dengan waktu penerbangan juga sering kali berpengaruh, makin cepat memesan tiket, makin murah tiketnya.

Kedua, pilih-pilih penginapan, mudah sekali untuk cari penginapan di Singapore. Untuk harga miring tentu nginapnya di hostel, bukan hotel. Klik www.hostel.com, www.hostelworld.com. atau www.hostelbookers.com di sana lengkap informasi dari berbagai macam hostel, lengkap dengan review orang-orang yang pernah ke sana. Silahkan bandingkan harga dan klasifikasi yang anda butuhkan. Be aware juga, banyak beberapa hostel suka ngasih harga promo, biasanya sampai stengah harga normal. Sangat lumayan untuk menekan pengeluaran.

Ketiga, rencanakan destinasi. Ini sangat penting menekan biaya transportasi baik bus maupun SMRT. Jangan sampai bolak-balik karena salah turun, karena perjalan terdekat bisa kena charge $1.20 dengan SMRT. Salah satu kenalan saya juga menganjurkan untuk naik bus, biayanya lebih murah $ 0.75. Tapi sedikit lebih rumit, harus dipastikan anda tidak salah naik bus. Baca map route busnya dengan hati-hati. Kawasan-kawasan yang touristy di Singapore relatif berdekatan, jadi kalau cukup kuat, cobalah untuk jalan kaki.

Keempat, pilih-pilih makanan dan minuman. Asian food court di bawah Lucky Plaza biasanya menjadi tempat makanan favorit para tourist dari Indonesia. Selain mudah dijangkau, tempat yang strategis, juga menyediakan makanan khas Indonesia, bahkan Nasi Padang. Namun buat backpacker yang mau irit maksimal mungkin harganya sedikit kemahalan. $ 5.00 to higher. Harga nasi dan ayam paling murah di sana $ 3.50 cukup masuk akal. Kalau mau lebih hemat, coba ke Tekka Mart di Little India, di sana bisa makan nasi dengan harga $ 1.00, cuma harus pinter-pinter milih. Urusan minuman juga perlu diakalin, satu botol mineral di Singapore $ 1.50, dua kali lebih mahal dari harga soda. Jangan lupa buat bawa tabung minum sendiri dari Indonesia, di Changi Airport bisa di isi ulang. Di kota, masuk saja ke Mesjid, di sana tabung air kita bisa diisi ulang. Lumayan gratisan.

Sekian dulu.

Happy Holiday!!

Wednesday, October 26, 2011

Horrorisme di Tidung! Part 2

Dasar emang bakcpacker gembel, ga mau rugi, dan harus liburan dengan seirit-iritnya biaya. Dari awal berangkat kita memang sudah berencana untuk tidak menginap di home stay, tapi ternyata tidak sesimple yang kita bayangkan. Ceritanya berjalan horror. Itu berawal dari setelah kami beres sholat maghrib.

Di dekat jembatan cinta, antara P. Tidung besar dan P. Tidung kecil, ada Mushollah yang kebetulan baru selesai dibangun ketika saya ke sana. Jadilah Musholla jadi base camp dadakan saya dan teman-teman. Mulai dari sholat, sekedar leyeh-leyeh, recharde hp, bersih-bersih, hingga mandi. Yang pasti semua bisa dinikmati secara gratis dan otomatis menghemat biaya. Setelah selesai Sholat Isya, kita jalan ke daerah pemukiman, naik sepeda, rencana untuk nyari lilin, lotion anti nyamuk, dan tali untuk jemuran.

Di jalan kita bertemu bapak-bapak yang bilang kalau selama dua puluh tahun tinggal di Tidung, dia belum pernah digigit nyamuk. Lebay sih, tapi mungkin karena begitu bersihnya pulau itu dari nyamuk.  Nemu warung dan belanja. Si ibuk warung bercerita kalau memang mau bikin tenda di deket jembatan, mesti kudu izin dulu sama "penghuni" tempat. Soalnya tidak lama sebelum itu, ada orang yang melihat penampakan di sekitar jembatan. *jleb*.

Siapa yang ga gentar kalau mendengar cerita dan peringatan kayak gitu? Walaupun panik, namun ga kehilangan akal. Perjalanan ini tetap harus dibikin maha irit. Setelah konsultasi dengan CP dan beberapa masyarakat di sana, akhirnya kita untuk memutuskn nenda di dermaga. Buat yang udah pernah ke tidung mungkin tau dermagannya di mana dan seperti apa. Nah kita nenda pas di samping kanan kantor dermaganya.

Cuaca pantai memang sering kali ga jelas. Kita badai yang cukup gede ketika memasang tenda, sehingga cukup kerepotan karena diterbangin angin. Tenda beres, tiba-tiba cuaca bagus dan langit berbintang. Nah ini mungkin akan sangat romantsi, duduk di kapal melihat langit cerah dan berbintang, dengan pasangan. Apesnya, kita jomblo semua. Tapi cukup lumayan untuk menggalau bareng.

Tenda yang sempit hanya cukup untuk dua orang, ya pastilah dua temen cewek saya yang tidur di tenda. Saya dan gigih tidur di luar, yang langsung melihat ke langit. Awalnya sih tidak ada masalah sampai akhirnya kita dibangunkan oleh hujan yang langsung mengguyur muka. Gimana bisa tidur kalau sambil mandi hujan? Akhirnya cuma nyempil di bawah atap yang paling sepanjang setengah meter di samping kantor dermaga. Yang penting ga langsung kena air langsung dari langit. Awal nya sih si bapak CP kita udah nawarin untuk tinggal di homestay, paling dapet dengan harga 200rb semalam dan tinggal dibagi empat. Tapi kami tetep kekeuh dengan cara kami sendiri. Emang dasar mahasiswa kere.

Subuh masuk, kita balik ke Mushola, sholat dan menikmati sunrise di Jembatan Cinta. Seperti di tempat lain juga, sunrise di mana-mana bagus, nggak kecuali di Tidung. Siangnya kita snorkling ke beberapa spot dan balik ke M. Angke dari P. Pramuka. Snorkling di Tidung, untuk pemula sih asik-asik aja, tapi sayangnya, terumbu karangnya sudah banyak yang rusak karena para guide yang suka buang jangkar sembarangan. Jadinya kita sendiri yang merusak alam dan pariwisata kita sendiri. Sedih sekali yah!

Monday, October 24, 2011

Sawarna yang penuh warna!

Sering saya bercerita tentang sawarna, tapi sebagian besar dari mereka bereaksi, "sawarna? di mana tu?" Bahkan orang sukabumi sekalipun. Banyak yang tau Ujung genteng, yang letaknya di sukabumi, tapi tidak tahu sawarna yang terletak di seberang Ujung genteng. Kalau yang pernah ke ujung genteng, mungkin pernah mendengar atau melihat situs telapak kaki sikabayan, memang berdasarkan cerita kuno, di Ujung genteng ada situs telapak kaki kiri si kabayan, sedangkan telapak kaki kanan ada di sawarna.

Sawarna, desa berpantai yang sangat terpencil namun sangat alami.  Terletak di kecematan Bayah, Banten. Akeses untuk ke sana juga cukup rumit, dengan infrastruktur yang belum memadai. Untuk mencapai sawarna, Kalau dari Jakarta tinggal turun ke serang-Pandeglang- saketi - malingping - bayah - sawarna. Kalau lewat jalur selatan juga bisa, Bogor - Cibadak - Sukabumi - Pelabuhan Ratu - Sawrna. Kalau yang tahu daerah Karang hawu, asa muasalnya Mak Erot, itu sudah 1 Jam perjalanan lagi menuju Sawarna.

Pariwisata yang ada di Sawarna murni pariwisata alam dan terjadi secara alami. Yang pasti semuanya bisa membuat kita berdecak kagum dan menyadari betapa indahnya Indonesia. Wisata di sawarna dinikmati dengan cara trakking. Sama sekali tidak bisa menggunakan kendaraan karena memang konturnya tidak memungkinkan. 

Spot yang mesti dituju di Sawarna diantaranya:

1. Goa Lalay
Goa lalay di sawarna teramasuk salah satu spot yang wajib dikunjungi. Buat yang belum pernah masuk goa, ini bakal menjadi pengalaman yang menarik. Namun, untuk datang ke sini, sebaiknya menggunakan celana pendek, karena di dalam goa, mengalir sungai yang menjadi sumber irigasi sawah penduduk. Goa Lalay masih cukup alami, banyak  stalagtid dan stalagmit, bahkan kelalawarnya juga masih banyak banget.
Dalam goa Lalay
2. Pantai Legon Pari

Pantai Legon Pari
Dari Goa Lalay ambil jalan lurus ke selatan, dengan melewati kebun kelapa dan persawahan penduduk, maka kita akan sampai di pantai Legon pari. Perlu diingat, kita tidak akan bisa menikmati pantai di sawarna tampa menyusurinya. Sampai di Pantai legon pari, lanjutlah jalan ke ujung kiri pantai, di sana ada karang taraje. Karang taraje udah menjadi icon pariwisata sawarna dalam berbagai buku dan majalah pariwisata dalam dan luar negeri. Untuk masuk ke goa lalay, sebaiknya pakai sendal gunung, atau nyeker, karena di dalamnya tanah benyek.

3. Karang Taraje dan Karang beureum
Salah satu panorama karang
Menikmati deburan ombak yang sangat indah. Perlu dicoba untuk naik ke atas kedua karang ini, nikmati sensasinya. Kita bisa melihat putihnya deburan ombak ketika menghatam batu, sehingga, terlihat seperti air terjun. Kalau tau air terjun Niagara, Kanada, mungkin miniatur nya bisa dinikmati di sawarna. Inilah yang menbuat sawarna berebeda dengan pantai-pantai yang lain. 

4. Perjalanan sepanjang panti sawarna
Pantai Sawarna yang berbatu
Dari pantai Legon pari, coba trekking ke Tanjung Layar. Sepanjang pantai kita bisa menikmati indahnya pantai berbatu yang terjadi secara alami akibat pengikisan air laut. Pemandangannya sungguh luar biasa, satu hal yang saya yakini dari hasil pengikisan ini, bahwa sebagian besar daerah pantai itu dulunya berada dibawah laut yang kemudian mengalami penyusutan.

5. Tapak kaki si kabayan
Seperti saya sebutkan di atas, di sawarna ada situs telapak kaki si kabayan, tepatnya kaki kiri, sedangkan kaki kanan ada di ujung genteng. Cuma kalau datang ketika pasang surut saja bisa melihat situs ini, kalau pasang lagi tinggi, situs ini tertutup oleh air laut.

6. Tanjung Layar
Ini salah satu batu yang menakjubkan di sawarna, batu akibat pengikisan air laut, membentuk seperti layar kapal terkembang, sehingga dinamai dengan tanjung layar.
Nampang di Tanjunga Layar

7. Sunset di Pantai Ciantir
Menikmati sunset di ciantir
Buat yang suka pasir putih dan halus, jangan kecewa karena sepanjang jalan hanya menemukan pantai berbatu, selain di Legon pari, pantai berpasirnya ada di Pantai Ciantir, pantai putih halus, dan yang paling penting adalah, BERSIH. Jadi ini tempat yang paling ideal menikmati sunsetSunset di mana-mana pasti Indah, tak terkecuali di Sawarna. Ombaknya gede dan airnya dingin banget. jadi kalau mau nyebur jangan tunggu sampai terlalu sore.

8. Surfing dan boogie board
Sawarna sudah tersohor hingga ke luar negeri, sayang nya orang Indonesia sendiri pada umumnya belum mengenal sawarna. Salah satu yang menjadi daya tarik para turis asing untuk ke sawarna adalah ombaknya. Jadi kalau ketemu bule di Sawarna sebagian besar mereka memang datang buat surfing, dan jangan heran pada musim ombak bagus, di Sawarna lebih banyak bule dari pada turis lokal. Jadi buat para pembaca yang hobby surfing silahkan, coba ombak sawarna. Kalau tidak sempat bawa papan surfing, boleh di rental, di beberapa penginapan biasanya menyediakan rental surfboard.
Kalau tidak bisa surfing tapi pengen coba seluncuran, boleh dicoba boogie board yang bisa disewa dari penginapan.

Tips ke sawarna:
1. Ada baiknya bawa mobil sendiri atau rental, karena masih susahnya transportasi ke sawarna, kalau mau ngeteng, ada elf yang langsung ke sawarna berangkat dari P. Ratu, jam 12 siang, setiap harinya, dan itu hanya ada satu elf.
2. Bawa makanan dan cemilan secukupnya, karena perjalanannya sangat jauh dan boring abis.
3. Sebaiknya datang pada musim kemarau, karena pada musim ini, air di goa lalay surut sehingga memudahkan trakking ke dalam goa. Dan jalan lupa bawa senter.
4. Karena trakkingnya cukup jauh, jadi buat yang ga kuat panas dan capek, mending dipikir ulang.
5. Pakai sendal atau sepatu yang nyaman dan ga licin.
6. Dalam perjalanan ke sawarna, ada baiknya bawa gps, atau lebih sering-sering berenti dan nanya, kalau bingung.
7. Kalau datang musim libur, ada baiknya reserve homestay dulu, karena homestay di sawarna masih sangat terbatas.

Sekian, Happy Holiday!

Friday, July 15, 2011

Horrorisme di Tidung! Part 1

Serius ini cerita telat banget ane posting, terkait dengan berbagai macam kendala, mulai dari koneksi internet yang dulunya tidak stabil seperti otak ane, selalu lupa untuk nulis cerita ini kalau buka blog, selalu kebelet boker pas mau nulis dan akhirnya lupa, hantu skripsi yang selalu mengikuti ane sehingga ane harus mengundur penulisan cerita ini, perasaan moody kalau mau nulis, hingga sering dimarahin ama emak ane karena skripsi ga ada progres.

Setiap perjalanan yang ane tempuh, sok iye bahasanya, memiliki cerita unik sendiri-sendiri, namun sebenarnya itulah sensasinya. Dapat pengalaman baru, bisa mengenali wilayah baru, dan yang paling penting nih, bisa pamer ama temen-temen yang liburannya cuma di kost-kostan atau di rumah doang. LOL. Tak ketinggalan, tidung juga punya cerita unik sendiri.

Ada yang ga tau P. tidung? P. Tidung itu salah salah satu pulau yang terdapat di kawasan Kep. Seribu. Pulaunya ada dua, P. Tidung Besar dan P. Tidung kecil. Wisata ke pulau ini masih sangat diminati oleh masyarakat-masyarakat yang berada di kawasan jawa barat. Menurut informasi yang ane dapat, kalau lagi high peaknya, pulau ini bisa dikunjungin hingga 4000 wisatawan lokal dan asing dalam satu malamnya. Sangat padat untuk pulau yang kecl ini, bahkan banyak wisatawan yang langsung berbalik pulang karena tidak dapat penginapan lagi. Keren yah!

Keawalan berawal awalnya, ane ga begitu familiar dengan pulau ni, berawal dari liburan natal tahun kemaren, orang pada liburan ane juga krasak-krusuk nyari destinasi liburan yang seru, dan pastinya terjangkau ama kantong. Dapat bocoran dari ex ane, katanya tidung bagus, dan dia mau liburan ke sana, ane langsung banting komputer browsing nyari informasinya. Satu hal yang harus diakalin kalau mau backpackeran, jangan pergi tanggal 23 Des- 1 Januari, pasti bakal padat banget. Yaah ane ke tidung tanggal 3 Januari, saat tempat wisata udah mulai sepi. Naah kalau lagi sepi, keuntungannya, penginapan murah, paket wisatanya murah, pulau serasa milik sendiri.

Info: Perjalanan mulai dari muara angke, naik boat yang biasanya bersisi 150-an orang. Kalau weekdays. boat ini hanya berjadwal 1 kali sehari, jam 7 pagi. Kalau weekend ada dua kali, jam 7 dan Jam 10. Lama tempuh sekitar, 3 jam. Ongkosanya Rp 33.000,-

jembatan cinta, keren toh?
Berangkat ke P. Tidung ade berempat dengan temen ane, kebetulan 2 couple, tapi seriously we are not dating, cuma kebetulan aja mereka yang pada mau. Biasanya ane ngajak banyak temen buat liburan, cuma dengan seleksi alam, mereka pada berguguran, alias gagal ikut dengan berbagai macam alasan.

Berangkat dari Muara Angke jam 7 pagi, touched down di P. Tidung jam 10. Kebetulan salah satu dari temen ane telah mengontak salah satu warga di sana yang bisa memfasilitasi berbagai macam kebutuhan selama liburan di tidung. Seperti sepeda, alat dan transportasi snorkling, informasi sekitar pulau, penginapan, makan, dll. Tapi kebetulan kita tidak menginap di penginapan yang rata-rata adalah homestay. Kami lebih memilih membawa tenda sendiri untuk menginap. 

Salah satu pinngiran T besar
Sampai di Tidung, kita langsung merental sepeda, atas saran pak wardi sang cp kita. Harganya sangat murah Rp. 10.000/24 jam. Harga normal sih Rp. 15.000, cuma karena pengunjung lagi sepi, jadi kita dapat diskonan. Seperti yang ane bilang di atas, Tidung itu terdiri atas dua pulau, tidung besar dan tidung kecil. Kedua pulau ini dihubungkan dengan jembatan yang plus minus panjangnya 300 m. Orang-orang sih biasanya menyebutnya jembatan cinta. Dan justru menurut ane jembatan ini lah menjadi daya tarik pulau ini, bisa nyebur dan berenang, melihat ikan-ikan, dan bisa menikmati both sunset and sunrise.

Liburan di Tidung juga tidak usah lama-lama, satu malam cukup, asal bisa mengoptimalkan waktu. Pasalnya kedua pulau itu bisa dijelajahi dari ujung pulau tidung kecil hingga ujung Tidung besar dalam waktu setengah hari. Itu udah included waktu foto dan narsis2an. Pulaunya sangat kecil, tapi cukup padat penduduk.

Bisa siluetan kalau sunset
Setelah memilih sepeda, ane dan teman-teman langsung menyisir abis pulau tidung ini,  tujuan pertama tentu jembatan cinta. Menyebrangi jembatan terus ke P. Tidung kecil, di Pulau ini nyaris ga ada rumah penduduk, cuma ada satu kantor, dan itu juga sering kosong. Kalau jalan terus ke ujung pulau ini, kawasannya masih relatif berhutan, dan yang bikin serem, di daerah ini ada pemakaman masyarakat P. Tidung.  Capek bersepeda, bisa istirahat dulu di sekitaran T. Kecil, pas di depan kantor, yang ane lupa itu kantor apa, ada ayunan, bisa tidur di bawah pohon rindang dan sejuknya udara kepulauan seribu.

Puas mengililing P. Tidung kecil dan tidur sejenak diayunan, perjalanan dilanjutkan dengan menyesiri pinggiran P. Tidung Besar, hingga titik paling ujung, di ujung Tidung Besar ada sedikit kawasan bebatuan yang cukup bagus jadi spot befoto. Bagian ujung pulau ini juga relatif rame karena merupakan kawasan kebun kelapa masyarakat tidung.

Oia, buat urusan makan, kalau mau irit, nggak usah pake katering yang ditawarin oleh cp atau sebagainya, mereka biasanya mematok harga Rp. 15.000 untuk sekali makan. Sekitaran Tidung besar banyak juga penduduk yang buka warung nasi, dan pastinya murah, dengan harga Rp. 7000,- dapat nasi, sayur, tempe, ikan/telor/ayam/ dan nasinya ngambil sendiri lagi, puas banget toh.

Ini buka bunuh diri!!
Sore hari jangan lupa sunset-an dan nyebur di jembatan cinta. Prinsip temen ane sih, ga afdhol kalau ke tidung tidak loncat di jembatan cinta, tapi serius, seru banget. Tinggi jembatannya sekitar 10 m dari permukaan air, kurang pasti sih tinggi konkret nya berepa, berhubung waktu itu ane ga bawa meteran, jadi ga bisa ngukur. LOL.