Tuesday, November 1, 2011

Sumpah Pemuda-Janji Kita?

Groningen, 1 November 2011
Oleh: Michelle Ayu Chinta Kristy

Selamat datang November 2011! Mungkin note ini akan dirasa terlambat ketika saya beri judul Sumpah Pemuda Indonesia, karena perayaan Sumpah Pemuda dirayakan pada tanggal 28 Oktober yang lalu. Namun akan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Tulisan ini murni pemikiran saya atas refleksi hidup saya dan bagaimana saya memandang tentang negara saya ketika berada di kota kecil di negara yang dulu menjajah negara Indonesia selama lebih kurang 350 tahun. Negara yang membuat para pemuda di negara saya mengkumandangkan yang mana selanjutnya kita sebut SUMPAH PEMUDA.

Saat ini saya berusia 24 tahun, memang usia yang masih dini dari segi pengalaman hidup, namun sudah cukup matang untuk dapat mengungkapkan pandangan mengenai negara Indonesia, khususnya pada note ini: bagaimana Indonesia, pemuda, dan janjinya.

Merupakan sebuah fakta bahwa semakin sedikit pemuda yang memikirkan bangsa sedemikian dalam sebagimana pemuda pada tahun 1928 yang sedang berperang demi menggenggam harga kemerdekaan. Namun hal ini merupakan sesuatu yang wajar bagi saya, terlebih kondisi sudah berubah dan tujuan yang akan dicapai pemudapun sudah berubah. Kondisi tahun 1928 dan 2011 memang tidak bisa dibandingkan.

Terlepas dari itu, pada tepatnya perayaan sumpah pemuda yang lalu, saya juga melihat berbagai notes yang mana mengungkapkan kekecewaan tentang janji pemuda saat ini yang mana diekspresikan bahwa sumpah pemuda yang dulu begitu sakral, saat ini dinilai hanya dipandang sebagai hari nasional belaka. Secara jujur saya kecewa juga dengan notes ini. Ungkapan kekecewaan yang berlebihan menurut saya. Bukan berarti saya apatis dengan makna sumpah pemuda, tapi sebaliknya, karena saya peduli dan ingin dengan menggunakan cara positif untuk membuat rekan-rekan muda sadar bagaimana janji pemuda masa kini untuk Indonesia diungkapkan.

Terkadang saya juga berpikir, sejak 1928 sampai sekarang, sudah ada berapa siklus pemuda yang berputar. Sudah ada berapa anak bangsa pula yang mengenyam banyak pengalaman atau mungkin bersekolah di luar negeri (dalam konteks dengan pengalaman saya saat ini). Berapa banyak pemuda Indonesia yang sudah menelan berbagai prestasi dunia. Namun pertanyaan klasik yang muncul, bagaimana bisa pemuda yang pintar dan berpengalaman (bayangkan ada berapa ratus bahkan ribu pemuda-pemudi Indonesia yang mengenyam pendidikan di berbagai negara di dunia setiap tahunnya) ini belum mampu membuat bangsa yang diidam-idamkan menjadi terwujud. Bagaimana bisa pemuda belum dapat melakukan pemerataan kesejahteraan dan kualiatas kehidupan di Indonesia secara merata. Saya tidak bilang pemuda gagal, karena sudah ada banyak kemajuan di bangsa kita, namu hanya saja belum berhasil sebagaimana yang diharapkan.

Masalah utama dan pertama sebetulnya adalah pemerataan kesejahteraan dan informasi yang membuat tingkat laju perkembangan hanya berputar pada lingkaran yang sama atau melebar tidak jauh dari pusat lingkaran. Kesenjangan sosial juga masalah utama yang ada di kalangan pemuda Indonesia. Rasanya harus berdarah-darah bagi seorang pemuda yang tidak berada pada pusat lingkaran yang saya maksud di atas untuk berjuang dan (dalam konteks saya saat ini) mengenyam pendidikan di luar negeri. Namun, di perspektif mata yang lain, hal demikian bukanlah hal yang sulit bagi beberapa pemuda yang berada dalam atau dekat dengan lingkaran yang saya tulis di atas. Lepas dari itu semua, saya tidak mau mendiskusikan mengenai lingkaran ini lebih lanjut - di luar konteks tulisan saya ini.

Saya jujur bukan merupakan pemuda yang suka dengan demo dan teriakan keras kepada beberapa elite politik yang sedang beroperasi di negara kita ini, saya tidak suka dengan cara ini, bukan berarti tidak setuju. Dalam opini saya, cara tersebut sama sekali tidak elegan. Menurut saya teriakan mencaci makin sistem dan para elite politik adalah hal omong kosong, nasionalisme terlalu cetek untuk diungkapkan dengan cara tidak elegan itu. Walaupun saya akui, pergolakan politik secara besar-besaran pada tahun 1998 memang terjadi karena peran pemuda yang secara massive membuat demonstrasi besar-besaran serta menduduki gedung MPR dan DPR (ini salah satu jawaban lain dari sumpah pemuda bangsa kita di tahun 1998). Namun saya katakan tidak elegan ketika hal ini dilakukan berkali-kali dalam lingkup yang lebih kecil dan masa yang tidak begitu banyak. Sudahlah, jadikan itu sejarah dan temukan cara elegan lain untuk melakukan perubahan bangsa yang lebih baik lagi ( bangsa kita sudah berubah menjadi lebih baik, hanya belum yang sesuai yang diidam-idamkan).

Hal sederhana dan realistis lebih menjadi sebuah opsi untuk saya. Salah satu contoh bentuk aktivitas yang mana sangat saya berikan apresiasi yang setinggi-tingginya adalah program Indonesia Mengajar. Program ini adalah program cerdas yang merupakan bentuk nyata dari sumpah pemuda Indonesia saat ini. Cara lain untuk mengungkapkan janji pemuda secara positif adalah belajar bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan. Contoh nyata adalah pelajar dan belajar. Bagaimana segala tindakan positif kita dapat memberikan pengaruh positif kepada banyak orang, dimulai dari orang-orang yang berada di sekeliling kita. Keberlanjutan merupakan elemen lanjutan dari tindakan positif sederhana dan realistis. Dengan elemen ini, energi positif yang membawa pada hasil yang lebih baik dan besar dapat dicapai.

Tanpa disadari banya cara-cara yang bisa ditempuh untuk mengungkapkan janji pemuda Indonesia di era yang baru ini. Pemuda merupakan sosok dan sumber yang kuat dalam melakukan perubahan, karena optimisme pemudalah apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Mari pemuda Indonesia, jangan menjadi tong kosong nyaring bunyinya, tapi jadilah padi yang merunduk karena berisi. Indonesia butuh kecerdasan, optimisme, dan energi positif dari pemuda-pemudinya untuk mendobrak sistem yang dirasa masih kurang efektif di negara kita untuk mewujudkan Indonesia yang diidam-idamkan.

Indonesia adalah bangsa yang besar di dunia. Bangsa yang dunia seharusnya lebih tau lebih tentang kita. Sudah saatnya Indonesia menggigit dunia dan membuat dunia takut dengan Indonesia. Mari para pemuda-pemudi, ini adalah waktu yang tepat untuk kita melakukan sesuatu yang positif di bidang kita masing-masing dengan energi positif kita, kita bersama mengigit dunia! :-)

Salam hangat dari Belanda,
Michelle

No comments:

Post a Comment

Post a Comment