Sunday, December 25, 2011

Review Travelling 2011

Di sela-sela skripsi yang bikin bosan, pengen inget-inget ah masa-masa liburan 2011. Mumpung akhir tahun dan biasanya sih banyak yang mencoba flashback tentang pencapaian dan kegagalan sepanjang tahun, tapi gw ga mau ikut-ikutan dari pada gw terbawa melow dan galau. Langsung aja lah coy.

1.  Gunung Geulis, Jatinangor tahun baru 2011.
Eh, ini termasuk travelling ga yah? iya-in aja yah. Kenapa namanya Gunung Geulis? gw juga kurang tau, denger-denger cerita karena di atasnya ada kuburan Putri Geulis yang meninggal karena diperkosa dan dibunuh. Memang sih di atasnya ada kuburan, tapi gw tidak meneliti itu naik ke sana. Buat anak-anak yang kost di Jatinangor, sekali semasa kuliah lu harus naik geulis. Pemandangannya keren kok. Apalagi kalau malam tahun baru, kita bisa liat semua kawasan Bandung dari ketinggian. Liat kembang api. Suer gw ga boong. Dari pengalaman gw tahun baru di sana, kesimpulan gw, orang-orang tajir di Bandung itu banyak tinggal di Bandung Utara. Karena gw liat kembang api nya paling meriah, paling wow, paling gede, ya dari bandung utara. Hipotesis bego sih, tapi coba aja klo lo pade ga percaya.

2. Pulau Tidung, Januari 2011

Gw ke tidung minggu pertama Januari, setelah beres libur tahun baru. Sepi kayak kandang sapi. Emang paling enak liburan itu bukan pas musim libur. Pulau berasa milik sendiri, dan semua biaya akomodasi, makan dan snorkling jauh lebih murah dibanding musim libur. Yah sesuai dengan prinsip ekonomi, high demands,high prices. Pengalaman uniknya, ternyata P. Tidung tu horror coy. Terutama deket jembatan cinta. Kalau belom pernah denger, Jembatan cinta itu menghubungkan antara P. Tidung Besar dan P. Tidung Kecil, panjang nya mungkin sekitar 500 m. Awalnya gw ama temen-temen mau bikin tenda di dekat jembatan. Jadi liburan camping gitu ceritanya, tapi salah satu warga melarang karena tempat itu spooky, Abra Kadabra akhirnya kita bikin tenda di Dermaga. Udah ditawarin sih penginapan murah. Rp. 200rb, bagi 4 jadi Rp. 50rb. Karena gw berempat ama teman gw. Tapi dasar emang gembel, harga segitu masih kurang realistis buat kita. Jadinya tetap pada rencana awal pakai tenda. Sialnya tenda cuma cukup untuk dua orang. Pas buat dua orang teman gw yang cewek dan gw dengan teman cowok gw tidur tanpa tenda. Sialnya lagi, malam turun ujan, gimana coba tidur tengah malam kena ujan? Seru-seru aja sih.

3. Karimun Jawa, April 2011

ni rencana agak lama tertunda sebenarnya, masalahnya sih personilnya selalu kurang. Malas kalau mau jalan ke pulau kayak gini, kita harus itung-itung keuangan, makin sedikit personil makin mahal. Minimal 10 orang lah biar budget nya masuk akal buat mahasiswa. Trus juga, kalau mau Irit, jangan pernah pake travel, paket tour, atau segala macam nya, ga bakal ada yang murah kalau sudah sama mereka. Kalau berangkat tanpa tour, hati-hati juga, di dermaganya banyak calo, nanti pasti mahal lagi kalau udah kena calo. Bahaya buat keuangan kita. Cerita karimun jawa, ini paling asik sih buat snorkling, terutama untuk wilayah jawa. Akses ke sana juga gampang, tinggal naik bus ke Jepara, nyambung ferry, nyampe deh. Perjalanan Ferry nya 6 jam sih, bikin mati kutu juga. So, kalau mau naik ferry siap-siap bawa banyak mainan biar bisa killing time. Pilihan lain bisa naik kapal cepat, tapi harganya juga lebih cepat ngosongin dompet. Buat snorkling, saya paling suka di P. Gosong Kecil. Rata-rata sih bagus, tapi ini paling bagus. Jangan sampe ga ke Gosong Kecil kalau ke karimun, rugi coy.

4. Bandung Barat, Juni 2011
Sorry ga ada foto ni, lupa minta ama temen gw. Tapi gw juga bingung deh ini masuk travelling atau ga. Bodo amat. Jadi ceritanya gw keliling Bandung Barat naik vespa ama temen gw. Dari Jatinangor - Kopo - Soreang - Ciwidey - Situ Patenggang - (balik)- Banjaran - Bale Endah - Majalaya - Rancaekek - Jatinangor (hipotesa). Tadinya mau lanjut ke Garut cuma kata informan yang kita tanya dari situ patenggang ke garut itu sekitar 6 jam lagi. Iya kali mati di jalan ntar. Udah vespa itu pecah ban pas di soreang, jalan mau ke ciwidey, nognkrong dah di bengkel 3 jam. Pas balik di tempat yang sama vespanya rusak, akhirnya bongkar mesin setengah. Masalahnya lagi kita sama-sama ga ada duit, sisa cuma Rp. 10rb, untung si aa nya baik, turun mesin setengah kita cuma kasih Rp. 10 rb, Laknat sekali.

5. Sawarna, September 2011

Pantai yang paling bagus yang pernah gw kunjungi. Masih bersih coy. Berbatu, bertanjung, berkarang, dan berpasir putih. Keren lah pokoknya. Di sana banyak bule, surfing, emang ombaknya bagus juga buat surfing. Tapi tempatnya itu loh coy, jauh. kalau dari bandung sekitar 9-11 jam lah. Tergantung rute dan keadaan di jalan. Kalau mau liat pantainya gimana, coba cek deh video klipnya smash ‘ada cinta’ itu setting nya di pantai sawarna.

6. Singapore, Oktober 2011

Tahun 2010 gw udah pernah juga ke Singapore, jadi sebenarnya ga tertarik lagi, karena memang gw ga terlalu suka wisata kapitalis. Singapore kan tempat shopping dan wahana permainan yang ada semuanya mahal-mahal. Gw ke Singapore nemenin kakak gw, yah lumayan sih di banyarin. Tapi serunya, ini jadi pengalaman backpacker ke luar negeri gw yang pertama. Asik juga sih, nginap di dorm hostel, dapat teman baru dari beragai negara, tambah ilmu dan pengalaman. Lebih asik lagi gw jalan kaki keliling sperempat dari wilayah singapore, kalau ga lebay sih gw bilang seperempat. Gw jalan kaki dari raffles, marina bay, mutar ke merlion, terus ke china town, naik ke utara arah clark quay, terus jalan ke orchard sampai lucky plaza trus balik ke hostel di little India, coba cek aja di map nya itu brapa km. Oia kalau mau ke Pulau sentosa sekarang sudah ada broadwalk nya dari vivo city, ada travellator juga, masuk p. sentosa cuma S$ 1 kok, bisa lebih irit.

7. Jogja, November 2011

Pas lebaran haji ini, tapi jogja lagi musim hujan, jadi cuma sempat main ke candi Prambanan, ga sempat ke pantai-patainya. Apalagi Borobudur. Semoga bisa balik lagi ke Jogja dan lebih menikmatinya.

Sekian.
Happy Holiday!

Sunday, December 18, 2011

Read the signs!

Kembali, ini cerita di Singapore. Tapi ini cukup mengesankan buat saya. Singapore, negara Asia Tenggara ber-etnis dasar Melayu tapi sudah sangat European. Well, dalam banyak hal saya akui mereka lebih bagus dibanding negara kita, Indonesia.

As i wrote before, Singapore punya sistem transportasi yang sangat bagus, terutama MRT nya. Jalur MRT-nya dibangun di bawah tanah yang berlapis-lapis. Hal yang sangat simple, tapi  hingga saat ini, Indonesia belum bisa menyainginya adalah masalah kebersihan. Sepengamatan saya, tidak pernah ada petugas kebersihan yang lalu-lalang mungutin sampah, baik di MRT nya maupun di Stasion nya. Kebayang kalau di Indonesia ada MRT juga. Yaks! Pasti bakal jorok.

Di stasion dan di MRT nya ada peringatan, Smoking, Penalty S$ 1000. Makan dan Minum Penalty S$ 500. Oktober 2011, ketika saya datang dengan kakak saya, dengan sepengetuhuan saya, kakak makan Roti di stasion MRT. Cuma Roti, gak bakal nyampah sebenarnya. Tapi yang namanya melanggar peraturan pasti akan diproses. Salah seorang dari petugas stasion menangkapi kakak saya yang makan roti, akhirnya kita di penalty yang harusnya dibanyar sebanyak S $500.  Tapi prosesnya cukup lama. Si petugas memberi saya nomor kontak yang harus dihubungi, biasanya untuk warga negara lain, aturannya bisa sedikit di nego, tergantung bagaimana kita ngomongnya. 

Saya disuruh menghubungi Land Transport Authority (LTA), menanyakan apa prosedur yang harus saya dan kakak saya jalani. Karena kakak saya tidak begitu lancar berbahasa Inggris, jadi semuanya saya yang urus. Pertama saya hubungi, diterima oleh Operator dengan logat Inggris Melayu, masih bisa dimengerti, dia minta saya untuk menelpon kembali, karena saya tidak punya nomor yang bisa mereka hubungi, sembari dia biacarakan dengan orang kantor. 

Dua jam kemudian, saya telpon balik dan diterima oleh operator yang berbeda. Kali ini cewek dengan logat Inggris mandarin. Well jujur saya sedikit bermasalah dalam memahami inggris berlogat mandarin ini. Pelik dengan pemahaman bahasa, akhirnya saya disuruh datang langsung ke kantor LTA.

Masalah selanjutnya, di mana LTA? Bagaimana ke sana? Clue yang sempat saya tanya cuma MRT terdekat, stasion Ang Mo Kio, kebetulan gak terlalu jauh dari Orchard. Tapi LTA masih jauh dari Ang Mo Kio, LTA itu di jalan Sin Ming Drive, tapi tidak ada jalur MRT yang menuju ke sana. Setelah bertanya sana-sini ternyata ke Sin Ming Drive harus nyambung naik SMRT bus. Turun di Halte terdekat, ternyata juga harus jalan kaki lagi sekitar 1 km.

Sampai di Kantor LTA, ternyata urusannya sangat sebentar, dan tidak bayar apa-apa. Kebanyakan surat penalty yang dikasih akan diproses 2-3 minggu setelah kejadian, dan surat tagihan biasanya dikirim langsung ke alamat rumah. Bagi pendatang, ada baiknya tidak memberi alama saudara atau family yang tinggal di Singapore kalau ada, karena surat akan dikirim ke rumah itu. Dan kalau pembaca mengalami kasus yang sama, mungkin tidak usah diproses juga, karena seperti saya ini, cuma buang-buang waktu liburan jadinya. Positifnya bisa lebih mengetahui kawasan Singapore, saya juga baru tau kalau Sin Ming Drive itu kawasan pusat bengkel dan built up Mobil. Well, semua ada hikmahnya.

Sekian, Happy Holiday!

Friday, November 18, 2011

Anak kampung gegar budaya! e.1

Hei..saya cuma ingin bercerita tentang gegar budaya atau Culture shock dalam bahasa bule nya. Para pembaca mungkin sering mendengar, tapi sedikit yang pernah mengalami. Kebetulan saya pernah mengalaminya dan ingin berbagi pengalaman dengan para pembaca sekalian.

Agustus tahun 2004. Saya ikut program pertukaran pelajar ke Amerika Serikat. Alhamdulillah yah. Di Amerika Serikat saya tinggal dengan keluarga angkat (host family), di Lawrence KS. Elbayoumy Family. Bapak dan Ibu keduanya asli Mesir. Tapi keduanya sudah menetap lama dan menjadi warga negara Amerika Serikat.

Sebelum bertemu keluarga Elbayoumy, saya tinggal dengan keluarga Wayne Wilmer. Seorang duda, Afro American yang bekerja sebagai perawat. Saya sempat tanya kenapa dia berpisah dengan istrinya, alasannya, karena perempuan itu ribet, lebih baik hidup sendiri dari pada dengan istri. Agak aneh sih, tapi tidak ada indikasi juga kalau dia gay
Perjanjian awal, saya memang tinggal sementara dengan Mr Wilmer, sampai dapat keluarga yang mau menampung saya selama sebelas bulan masa program saya di Amerika. Selain saya, dia juga mengambil ada pertukaran dari Jerman. Namanya Paul. Tapi Paul akan stay sebelas bulan dengan dia, beda dengan saya. 

Di Kansas saya sekolah di Lawrence High School. Tidak begitu jauh dari rumah keluarga angkat saya. Setiap harinya saya di antar jemput. Terkadang oleh Ayah, kadang oleh Ibu. Tergantung siapa yang sempat jemput atau antar. Well, berasa sangat dimanjakan, karena dari TK saya tidak pernah di antar jemput, apalagi selama di Pesantren, semuanya serba mandiri dan sekolah juga satu lingkungan dengan asrama.

Awalnya semua terasa biasa saja, walaupun pada awal sebelum berangkat saya dan teman-teman yang berangkat ke sana sudah dibekali dengan berbagai cerita dan pengalaman para senior tentang bagaimana kehidupan di Amerika Serikat. Bagaimana culture shock pasti bakal kita alami. Tapi saya belum merasakan sampai saya mulai sekolah di Lawrence High School.

Benar saja, apa yang telah dibekali kepada kami.  Benar apa yang kita sering kita tonton dalam film-film hollywood tentang kehidupan Amerika Serikat. "United States is a free country, man". Begitu kata Matt salah satu temen kelas saya. Amerika Serikat negara yang memberi kebebasan bagi setiap individunya mengekspresikan emosinya, selama tidak mengganggu orang lain dan tidak ada kekerasan fisik, rata-rata masih dianggap wajar.

Hari pertama sekolah, pertama kali yang ditemui adalah kepala sekolah. Kepala sekolah ini aneh, tidak seperti kebanyakan di Indonesia yang berpakaian rapih dan necis. Yah walaupun tidak ada parameter yang pasti dalam kata rapih dan necis. Tapi  mungkin pembaca tau bagaimana yang saya maksud. Kepala sekolah saya seorang ibuk-ibuk yang dandanannya norak. Berkulit hitam, tapi rambutnya disemir putih. Persis seperti uban. Bulu mata lentik dan diextend. Kuku sepuluh jari tangannya semuanya panjang, mungkin masing-masingnya 10 cm. Pakaiannya serba nge-press, pakai high heels dan rok sepuluh senti di atas lutut.

Enaknya sekolah di Amerika Serikat, kita bebas memilih pelajaran yang kita suka, sesuai dengan minat dan bakat. Tapi biasanya ada pelajaran wajib yang mesti diambil, seperti math, US History, and English. Ini juga tidak sama di setiap sekolah, masing-masing sekolah punya kebijakan masing-masing. Berhubung saya katrok dan ga ngerti apa-apa, sudah saja saya memilih pelajaran sesuka hati. Pertama, saya bilang, "I don't wanna take math class." Berhubung saya student exchange jadinya dibolehkan. Selain itu saya ambil Lifetime sport, photography, chemistry, US History, and English. Semunya memang pelajaran gampang dan saya sengaja, ngapain susah karena sebenarnya misi ke sini adalah untuk bergaul, bukan jadi peneliti atau penstudi.

Hari pertama sekolah, saya diberi first friend. Semacam guide, yang memandu saya sampai saya terbiasa dengan aturan dan keadaan di Lawrence High. Mungkin supaya saya tidak nyasar juga nyari kelas dan makan siang. Atau supaya saya tidak kesepian? Mungkin juga yah. Namanya Knox. Asalnya dari Tonga. Salah satu negara kecil di Samudera Pasifik. Badannya gede, segede kingkong, tingginya nyaris 190 cm. Sedikit gendut, tapi memang dasarnya orang pasifik gede-gede, saya juga bingung kok ada yah orang segede gini. Pas salaman, dia mengulurkan tangan kiri. Ternyata kebanyakan di negara-negara Pasifik orang berasalaman pake tangan kiri, bukan seperti kita yang pakai tangan kanan, awkward, akhirnya saya mengulurkan tangan kiri juga yang tadinya sudah sempat mengulurkan tangan kanan. Katanya kalau di sana, yang begitu sudah biasa, kebanyakan American pakai tangan kanan, tapi sebagian ada juga yang pakai tangan kiri.

Nggak hanya sebagai teman, Knox, juga menawarkan diri jadi bodyguard saya. Berhubung saya sangat kecil, mungkin dia khawatir dengan keselamatan dan kelangsungan hidup selama sekolah di sana. Dengan senang hati saya menerima penawaran dirinya. Body guard gratis, kapan lagi coba?

Tuesday, November 1, 2011

Sumpah Pemuda-Janji Kita?

Groningen, 1 November 2011
Oleh: Michelle Ayu Chinta Kristy

Selamat datang November 2011! Mungkin note ini akan dirasa terlambat ketika saya beri judul Sumpah Pemuda Indonesia, karena perayaan Sumpah Pemuda dirayakan pada tanggal 28 Oktober yang lalu. Namun akan lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Tulisan ini murni pemikiran saya atas refleksi hidup saya dan bagaimana saya memandang tentang negara saya ketika berada di kota kecil di negara yang dulu menjajah negara Indonesia selama lebih kurang 350 tahun. Negara yang membuat para pemuda di negara saya mengkumandangkan yang mana selanjutnya kita sebut SUMPAH PEMUDA.

Saat ini saya berusia 24 tahun, memang usia yang masih dini dari segi pengalaman hidup, namun sudah cukup matang untuk dapat mengungkapkan pandangan mengenai negara Indonesia, khususnya pada note ini: bagaimana Indonesia, pemuda, dan janjinya.

Merupakan sebuah fakta bahwa semakin sedikit pemuda yang memikirkan bangsa sedemikian dalam sebagimana pemuda pada tahun 1928 yang sedang berperang demi menggenggam harga kemerdekaan. Namun hal ini merupakan sesuatu yang wajar bagi saya, terlebih kondisi sudah berubah dan tujuan yang akan dicapai pemudapun sudah berubah. Kondisi tahun 1928 dan 2011 memang tidak bisa dibandingkan.

Terlepas dari itu, pada tepatnya perayaan sumpah pemuda yang lalu, saya juga melihat berbagai notes yang mana mengungkapkan kekecewaan tentang janji pemuda saat ini yang mana diekspresikan bahwa sumpah pemuda yang dulu begitu sakral, saat ini dinilai hanya dipandang sebagai hari nasional belaka. Secara jujur saya kecewa juga dengan notes ini. Ungkapan kekecewaan yang berlebihan menurut saya. Bukan berarti saya apatis dengan makna sumpah pemuda, tapi sebaliknya, karena saya peduli dan ingin dengan menggunakan cara positif untuk membuat rekan-rekan muda sadar bagaimana janji pemuda masa kini untuk Indonesia diungkapkan.

Terkadang saya juga berpikir, sejak 1928 sampai sekarang, sudah ada berapa siklus pemuda yang berputar. Sudah ada berapa anak bangsa pula yang mengenyam banyak pengalaman atau mungkin bersekolah di luar negeri (dalam konteks dengan pengalaman saya saat ini). Berapa banyak pemuda Indonesia yang sudah menelan berbagai prestasi dunia. Namun pertanyaan klasik yang muncul, bagaimana bisa pemuda yang pintar dan berpengalaman (bayangkan ada berapa ratus bahkan ribu pemuda-pemudi Indonesia yang mengenyam pendidikan di berbagai negara di dunia setiap tahunnya) ini belum mampu membuat bangsa yang diidam-idamkan menjadi terwujud. Bagaimana bisa pemuda belum dapat melakukan pemerataan kesejahteraan dan kualiatas kehidupan di Indonesia secara merata. Saya tidak bilang pemuda gagal, karena sudah ada banyak kemajuan di bangsa kita, namu hanya saja belum berhasil sebagaimana yang diharapkan.

Masalah utama dan pertama sebetulnya adalah pemerataan kesejahteraan dan informasi yang membuat tingkat laju perkembangan hanya berputar pada lingkaran yang sama atau melebar tidak jauh dari pusat lingkaran. Kesenjangan sosial juga masalah utama yang ada di kalangan pemuda Indonesia. Rasanya harus berdarah-darah bagi seorang pemuda yang tidak berada pada pusat lingkaran yang saya maksud di atas untuk berjuang dan (dalam konteks saya saat ini) mengenyam pendidikan di luar negeri. Namun, di perspektif mata yang lain, hal demikian bukanlah hal yang sulit bagi beberapa pemuda yang berada dalam atau dekat dengan lingkaran yang saya tulis di atas. Lepas dari itu semua, saya tidak mau mendiskusikan mengenai lingkaran ini lebih lanjut - di luar konteks tulisan saya ini.

Saya jujur bukan merupakan pemuda yang suka dengan demo dan teriakan keras kepada beberapa elite politik yang sedang beroperasi di negara kita ini, saya tidak suka dengan cara ini, bukan berarti tidak setuju. Dalam opini saya, cara tersebut sama sekali tidak elegan. Menurut saya teriakan mencaci makin sistem dan para elite politik adalah hal omong kosong, nasionalisme terlalu cetek untuk diungkapkan dengan cara tidak elegan itu. Walaupun saya akui, pergolakan politik secara besar-besaran pada tahun 1998 memang terjadi karena peran pemuda yang secara massive membuat demonstrasi besar-besaran serta menduduki gedung MPR dan DPR (ini salah satu jawaban lain dari sumpah pemuda bangsa kita di tahun 1998). Namun saya katakan tidak elegan ketika hal ini dilakukan berkali-kali dalam lingkup yang lebih kecil dan masa yang tidak begitu banyak. Sudahlah, jadikan itu sejarah dan temukan cara elegan lain untuk melakukan perubahan bangsa yang lebih baik lagi ( bangsa kita sudah berubah menjadi lebih baik, hanya belum yang sesuai yang diidam-idamkan).

Hal sederhana dan realistis lebih menjadi sebuah opsi untuk saya. Salah satu contoh bentuk aktivitas yang mana sangat saya berikan apresiasi yang setinggi-tingginya adalah program Indonesia Mengajar. Program ini adalah program cerdas yang merupakan bentuk nyata dari sumpah pemuda Indonesia saat ini. Cara lain untuk mengungkapkan janji pemuda secara positif adalah belajar bertanggungjawab atas apa yang kita lakukan. Contoh nyata adalah pelajar dan belajar. Bagaimana segala tindakan positif kita dapat memberikan pengaruh positif kepada banyak orang, dimulai dari orang-orang yang berada di sekeliling kita. Keberlanjutan merupakan elemen lanjutan dari tindakan positif sederhana dan realistis. Dengan elemen ini, energi positif yang membawa pada hasil yang lebih baik dan besar dapat dicapai.

Tanpa disadari banya cara-cara yang bisa ditempuh untuk mengungkapkan janji pemuda Indonesia di era yang baru ini. Pemuda merupakan sosok dan sumber yang kuat dalam melakukan perubahan, karena optimisme pemudalah apa yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Mari pemuda Indonesia, jangan menjadi tong kosong nyaring bunyinya, tapi jadilah padi yang merunduk karena berisi. Indonesia butuh kecerdasan, optimisme, dan energi positif dari pemuda-pemudinya untuk mendobrak sistem yang dirasa masih kurang efektif di negara kita untuk mewujudkan Indonesia yang diidam-idamkan.

Indonesia adalah bangsa yang besar di dunia. Bangsa yang dunia seharusnya lebih tau lebih tentang kita. Sudah saatnya Indonesia menggigit dunia dan membuat dunia takut dengan Indonesia. Mari para pemuda-pemudi, ini adalah waktu yang tepat untuk kita melakukan sesuatu yang positif di bidang kita masing-masing dengan energi positif kita, kita bersama mengigit dunia! :-)

Salam hangat dari Belanda,
Michelle

Monday, October 31, 2011

Komodo dalam New7Wonders cuma temporary

Dukung P. Komodo untuk menjadi New7Wonders dangan mengirim SMSke 9818. Tarif Rp. 1 per SMS. Kurang lebih begitu iklan yang disampaikan oleh berbagai media masa akhir-akhir ini. Secara pribadi, menurut saya ini agak picik, karena meminta voting yang subjektif dari masyarakat Indonesia. Tentu saja Indonesia berupa semaksimal mungkin meminta dukungan masyarakat Indonesia dengan populasi yang mencapai 240 juta jiwa. Seakan menyanjung diri sendiri. Lagian tidak semua voter yang mengerti kenapa mereka harus mendukung Taman Nasional Komodo menjadi New7Wonders.  

Tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi mengapa Komodo kembali menjadi nominee dalam New7Wonders setelah Indonesia menarik diri pada awal tahun ini, karena harus membayarkan uang US$ 45 juta ke Yayasan New7Wonders. Pastinya, sekarang pemerintah menggalang kampanye agar masyarakat memberikan dukungan demi meloloskan "proyek" ini.

Saya pribadi tidak menolak atau pun mendukung kampanye ini. Dengan berbagai pertimbangan. Tidak lebih ini hanya mengkapitaliskan pariwisata-pariwisata dari berbagai negara yang ikut serta. Yang mutlak diuntungkan pastinya Yayasan New7Wonders. Karena faktanya New7Wonders hanya lembaga swasta yang tidak berwenang di bawah UNESCO.

Positifnya, kalau memang Komodo masuk dalam New7Wonders tentu ini akan jadi marketing yang sangat luar biasa bagi pariwisata Indonesia, khususnya di Taman Nasional Komodo. Namun tidak berarti harus menjadi salah satu New7Wonders untuk memajukan pariwisata Taman Nasional Komodo. Banyak hal yang lebih krusial dari hanya sekedar periklanan melalui Yayasan New 7 Wonders. Dan sebenarnya UNESCO juga telah menetapkan Taman Nasional Komodo sebagai salah satu World Heritage pada tahun 1986.

Saya melihat bahwa perlindungan terhadap kelangsungan hidup hewan langka ini jauh lebih penting dari sekedar popularitas. Kalau Komodo bisa bicara, mungkin mereka akan bilang : "Saya tidak peduli dengan 7 keajaiban dunia, yang penting lindungi saya dari kepunahan". Survey  menunjukkan kalau populasi komodo semakin berkurang, tersisa sekitar tiga ribu ekor di P. Komodo. Itu diakibatkan oleh makin terbatasnya bahan makanan dan kebakaran hutan.

Dengan hanya menjadi nominee New7Wonders itu sudah cukup memperkenalkan Taman Nasional Komodo ke dunia internasional. Tidak mesti menang, karena yang lebih penting adalah memperbaiki pariwisata Indonesia itu sendiri. Perbaiki Infrastruktur, sistem informasi dan transportasi, penuhi kebutuhan hospitality, dan packaging pariwisata Indonesia.

Semakin ke timur, Indonesia semakin minim pembangunan. Seolah sudah menjadi aib kita bersama. Padahal banyak sekali potensi pariwisata yang bisa dikembangkan di bagian Timur Indonesia. Sayangnya pemerintah tidak terlalu punya perhatian untuk menggiatkan pembangunan infrastrukturnya, sehingga para touris baik dari dalam maupun luar negeri jadi urung untuk datang.  Biaya transportasi juga relatif mahal. Taman Nasional Komodo juga minim akan pembangunan. 

Saya berharap dengan masuknya Taman Nasional Komodo sebagai salah satu nominee New7Wonders bisa mendokrak popularitas dan jumlah turis yang datang ke TN Komodo. Dan yang lebih penting adalah pemerintah perlu memperbaiki packaging pariwisata Indonesia, khususnya TN Komodo di sini. Percuma kalau tourist datang namun mereka tidak mendapatkan kenyaman dan kemudahan dalam kunjungan mereka. Sehingga promosi dari mulut ke mulut sulit terjadi, kecil juga kemungkinan mereka akan datang kembali berkunjung. Selain itu, pemerintah juga perlu melakukan improvisasi dalam pariwisata Indonesia. Mungkin dengan dengan membuat paket wisata yang dikelola resmi oleh pemerintah ataupun bergabung dengan lembaga swasta yang mengekslporasi berbagai keanekaragaman budaya dan  kekayaan alam Indonesia.

Sunday, October 30, 2011

Ngelayap ke Singapore

Ini kali kedua saya ke Singapore, setelah urusan kuliah setahun yang lewat. Walaupun ga terlalu tertarik dengan negara kecil ini, tapi tetep senenglah kalau yang namanya urusan traveling, apalagi dapet gratis. Ga ada doa penolak rezeki kan?
Cuma jalan kali ini berbeda dengan tahun lalu, tahun lalu judulnya penelitian, pengamatan, observasi atau apalah, kalau sekarang, backpacker-an atau lebih tepatnya"ngegembel. Dan pastinya ini jauh lebih menarik.
Saya sering backpacker-an dengan beberapa teman kampus ke berbagai tempat di Indonesia, walaupun ga jauh-jauh amat, karena memang disesuain dulu dengan kantong mahasiswa pengangguran kayak kita. Tapi baru kali ini saya backpacker-an ke luar negeri, walaupun cuma Singapore yang easy to go banget, tapi cukup lah buat pemula.
Singapore negara relatif kecil hanya 710.2 km2 . Infrastruktur umum seperti SMRT dan Bus juga sangat bagus. Sangat mudah untuk berkeliling negara ini, cukup dengan naik sarana transportasi umum yang ada. Jangan takut nyasar di Singapore, karena di mana-mana map of singapore sangat mudah ditemukan, jadi tinggal baca map atau datang ke singapore visitor centre. 
Kalau mau traveling, biaya pasti jadi pertimbangan pertama. Apalagi buat backpacker,  walaupun terkadang sanggup bayar mahal, cuma traveling dengan cara yang seirit-iritnya memberikan sensasi tersendiri.
Supaya dapat backpacker-an ke Singapore dengan biaya murah, dari pengalaman saya, ada beberapa tips.

Pertama tentu cari tiket murah. Rata-rata, Maskapai ke Singapore adalah Low Cost, kecuali dengan maskapai kelas atas seperti Singapore Air. Tiger Air, Air Asia, Lion Air, biasanya sering ngasih promo untuk rute Singanpore-Jakarta. Kalau beruntung bisa dapat kurang dari 700 ribu untuk tiket pp. Jarak booking tiket dengan waktu penerbangan juga sering kali berpengaruh, makin cepat memesan tiket, makin murah tiketnya.

Kedua, pilih-pilih penginapan, mudah sekali untuk cari penginapan di Singapore. Untuk harga miring tentu nginapnya di hostel, bukan hotel. Klik www.hostel.com, www.hostelworld.com. atau www.hostelbookers.com di sana lengkap informasi dari berbagai macam hostel, lengkap dengan review orang-orang yang pernah ke sana. Silahkan bandingkan harga dan klasifikasi yang anda butuhkan. Be aware juga, banyak beberapa hostel suka ngasih harga promo, biasanya sampai stengah harga normal. Sangat lumayan untuk menekan pengeluaran.

Ketiga, rencanakan destinasi. Ini sangat penting menekan biaya transportasi baik bus maupun SMRT. Jangan sampai bolak-balik karena salah turun, karena perjalan terdekat bisa kena charge $1.20 dengan SMRT. Salah satu kenalan saya juga menganjurkan untuk naik bus, biayanya lebih murah $ 0.75. Tapi sedikit lebih rumit, harus dipastikan anda tidak salah naik bus. Baca map route busnya dengan hati-hati. Kawasan-kawasan yang touristy di Singapore relatif berdekatan, jadi kalau cukup kuat, cobalah untuk jalan kaki.

Keempat, pilih-pilih makanan dan minuman. Asian food court di bawah Lucky Plaza biasanya menjadi tempat makanan favorit para tourist dari Indonesia. Selain mudah dijangkau, tempat yang strategis, juga menyediakan makanan khas Indonesia, bahkan Nasi Padang. Namun buat backpacker yang mau irit maksimal mungkin harganya sedikit kemahalan. $ 5.00 to higher. Harga nasi dan ayam paling murah di sana $ 3.50 cukup masuk akal. Kalau mau lebih hemat, coba ke Tekka Mart di Little India, di sana bisa makan nasi dengan harga $ 1.00, cuma harus pinter-pinter milih. Urusan minuman juga perlu diakalin, satu botol mineral di Singapore $ 1.50, dua kali lebih mahal dari harga soda. Jangan lupa buat bawa tabung minum sendiri dari Indonesia, di Changi Airport bisa di isi ulang. Di kota, masuk saja ke Mesjid, di sana tabung air kita bisa diisi ulang. Lumayan gratisan.

Sekian dulu.

Happy Holiday!!

Wednesday, October 26, 2011

Horrorisme di Tidung! Part 2

Dasar emang bakcpacker gembel, ga mau rugi, dan harus liburan dengan seirit-iritnya biaya. Dari awal berangkat kita memang sudah berencana untuk tidak menginap di home stay, tapi ternyata tidak sesimple yang kita bayangkan. Ceritanya berjalan horror. Itu berawal dari setelah kami beres sholat maghrib.

Di dekat jembatan cinta, antara P. Tidung besar dan P. Tidung kecil, ada Mushollah yang kebetulan baru selesai dibangun ketika saya ke sana. Jadilah Musholla jadi base camp dadakan saya dan teman-teman. Mulai dari sholat, sekedar leyeh-leyeh, recharde hp, bersih-bersih, hingga mandi. Yang pasti semua bisa dinikmati secara gratis dan otomatis menghemat biaya. Setelah selesai Sholat Isya, kita jalan ke daerah pemukiman, naik sepeda, rencana untuk nyari lilin, lotion anti nyamuk, dan tali untuk jemuran.

Di jalan kita bertemu bapak-bapak yang bilang kalau selama dua puluh tahun tinggal di Tidung, dia belum pernah digigit nyamuk. Lebay sih, tapi mungkin karena begitu bersihnya pulau itu dari nyamuk.  Nemu warung dan belanja. Si ibuk warung bercerita kalau memang mau bikin tenda di deket jembatan, mesti kudu izin dulu sama "penghuni" tempat. Soalnya tidak lama sebelum itu, ada orang yang melihat penampakan di sekitar jembatan. *jleb*.

Siapa yang ga gentar kalau mendengar cerita dan peringatan kayak gitu? Walaupun panik, namun ga kehilangan akal. Perjalanan ini tetap harus dibikin maha irit. Setelah konsultasi dengan CP dan beberapa masyarakat di sana, akhirnya kita untuk memutuskn nenda di dermaga. Buat yang udah pernah ke tidung mungkin tau dermagannya di mana dan seperti apa. Nah kita nenda pas di samping kanan kantor dermaganya.

Cuaca pantai memang sering kali ga jelas. Kita badai yang cukup gede ketika memasang tenda, sehingga cukup kerepotan karena diterbangin angin. Tenda beres, tiba-tiba cuaca bagus dan langit berbintang. Nah ini mungkin akan sangat romantsi, duduk di kapal melihat langit cerah dan berbintang, dengan pasangan. Apesnya, kita jomblo semua. Tapi cukup lumayan untuk menggalau bareng.

Tenda yang sempit hanya cukup untuk dua orang, ya pastilah dua temen cewek saya yang tidur di tenda. Saya dan gigih tidur di luar, yang langsung melihat ke langit. Awalnya sih tidak ada masalah sampai akhirnya kita dibangunkan oleh hujan yang langsung mengguyur muka. Gimana bisa tidur kalau sambil mandi hujan? Akhirnya cuma nyempil di bawah atap yang paling sepanjang setengah meter di samping kantor dermaga. Yang penting ga langsung kena air langsung dari langit. Awal nya sih si bapak CP kita udah nawarin untuk tinggal di homestay, paling dapet dengan harga 200rb semalam dan tinggal dibagi empat. Tapi kami tetep kekeuh dengan cara kami sendiri. Emang dasar mahasiswa kere.

Subuh masuk, kita balik ke Mushola, sholat dan menikmati sunrise di Jembatan Cinta. Seperti di tempat lain juga, sunrise di mana-mana bagus, nggak kecuali di Tidung. Siangnya kita snorkling ke beberapa spot dan balik ke M. Angke dari P. Pramuka. Snorkling di Tidung, untuk pemula sih asik-asik aja, tapi sayangnya, terumbu karangnya sudah banyak yang rusak karena para guide yang suka buang jangkar sembarangan. Jadinya kita sendiri yang merusak alam dan pariwisata kita sendiri. Sedih sekali yah!